Manusia dan Pengetahuan

Dalam membahas topik ini kita awali dengan membuka pertanyaan; Apakah dalam diri manusia terdapat sejumlah pengetahuan yang bersifat fitri. Yaitu pengetahuan yang ghairu muktasab.

Ada beberapa teori yang dikemukakan oleh para pemikir, baik dari kalangan filosof maupun yang lain. Pendapat pertama menyatakan bahwa  dalam diri manusia terdapat banyak konsep yang muktasab (diperoleh melalui usaha). Pendapat ini dikemukakan berdasar  firman Allah :[1]

والله أخرجكم من بطون أمهاتكم لا تعلمون شيئا وجعل لكم السمع والأبصار والأفئدة لعلكم تشكرون

Pengertian lahiriyah ayat ini menyatakan : “Sesungguhnya ketika kamu sekalian dilahirkan , kamu sekalian tidak / belum mengetahui apapun. Artinya lembaran akal dan hati manusia masih bersih dan belum ada goresan ilmu / pengetahuan apapun. Kemudian kamu sekalian  diberi pendengaran , pengelihatan dan kalbu, supaya kamu semua dapat menuliskan berbagai hal dalam lembaran hati dan akal kalian.

Teori kedua menyatakan  sebaliknya . Sesungguhnya ketika manusia dilahirkan , sudah mengetahui semua hal tanpa ada yang terlewat sama sekali. Menurut teori Plato[2], sebelum ruh manusia ditempatkan di badan (yakni ketika masih berada dalam alam ide), ruh telah mengtahui semua hakikat segala sesuatu yang ada di alam  smesta. Kemudia setelah bertempat di badan, maka muncullah penghalang yang memisahkan ruh dengan pengetahua ide tersebut. Oleh karena itu menurut Plato, setiap bayi yang lahir pada dasarnya telah mengetahui segala sesuatu. Usaha pembelajaran hanyalah sebagai ihtiar untuk mengingatkan kembali pengetahuan yang terlupakan.[3]

Teori ketiga menyatakan bahwa manusia mengetahui sesuatu melaui fitrahnya. Namun dalam bentuk prinsip-prinsip. Dengan demikian , maka jumlah pengetahuan yang fitri itu sangat sedikit, sedang cabang-cabangnya bersifat muktasab. Pendapat ini berbeda dengan pendapat Plato. Jika Plato mengatakan bahwa  di alam ide manusia telah mengetaui segala sesuatu namun kemudian lupa, pendapat ketiga ini menyatakan bahwa di dunia ini manusia diingatkan  pada prinsip-prinsip pengetahuan tersebut. Karena itu ia membutuhkan guru untuk mengetahuinya, mebutuhkan sistem yang membedakan besar-kecil, perlu membuat analogi, menempuh pengalaman dan sebagainya. Artinya bangunan intelektualitas manusia dikembangkan dengan cara menyodorkan beberapa hal saja, maka manusia sudah bisa mengetahui tanpa ada dalil dan bukti. Pendapat ini dianut oleh para filosoh muslim pada umumnya, dan sebagian filosoh Barat. Emmanuel Kant, misalnya , mengakui bahwa dalam diri manusia terdapat himpunan pengetahuan yang bersifat fitri, yakni pengetahuan yang tidak diperoleh melalui pengalaman atau indera, tetapi pengetahuan yang mesti ada dalam diri manusia.[4]

Di mana posisi Pemikiran Dr. Muthahhari dalam hal ini. Dalam buku  yang ditulis sendiri dengan  judul  “Fitrah”  halaman  34 dikatakan sebagai berikut :

Titik pusat dan paling penting dalam pembicaraan kita kali ini  adalah teori yang dianut oleh para filosof  Muslim, yang mengatakan bahwa prinsip-prinsip berpikir manusia tidak bersifat pengajaran dan tidak pula bersifat istidlali (didapat melalui penyusunan dalil-dalil), tetapi dalam waktu yang bersamaan mereka tidak memandang hal itu tidak sebagai  karakter asal manusia”[5]

Dari pernyataan di atas agaknya Muthahhari condong dan tertarik pada konsep para filosof Muslim dengan menunjukkan dalil-dalil dari al-Qur’an. Dijelaskan bahwa konsep yang digagas para filosof Muslim ini berbeda dengan  teorinya Plato dan Kant. Jika menurut Plato dan Kant, pengetahuan itu merupakan bawaan asal manusia, maka para filosof Muslim menyatakan bahwa ketika manusia dilahirkan , dia tidak mengetahui apapun, termasuk prinsip-prinsip berpikirnya. Walaupun begitu mereka bengakui bahwa terbentuknya prinsip-prinsip berpikir pada manusia setelah itu, tidak membutuhkan pengalaman, penyusunan dalil atau guru. Artinya secara intuitif manusia mengetahui prinsip-prinsip itu tanpa memerlukan dalil  dan bukti pembenaran. Jadi begitu seseorang  berpikir tentang dua sisi sesuatu, (yakni pokok permasalahannya dan kemungkinan-kemungkinannya), maka ia akan sampai pada suatu kesimpulan .

Sebagai contoh;  Jika dikatakan  “Keseluruhan adalah lebih besar dari bagian-bagiannya”, maka menurut teori Plato pasti dinyatakan bahwa pengetahuan manusia itu sudah ada sejak azali. Sedang menurut teori Kant pasti dinyatakan bahwa sebagian  pengetahuan itu  berasal dari bawaan manusia sejak lahir, dan sebagiannya lagi  diperoleh dari luar.  Bagi para filosof Muslim tidak demikian. Seorang bayi yang baru lahir tidak tahu apapun mengenai konsep bahwa   “keseluruhan lebih besar dari bagian-bagiannya”,   sebab dia tidak mempunyai konsep tentang   “keseluruhan”   dan  “bagian-bagian”.  Akan tetapi  begitu memiliki konsep kedua hal itu,  dan salah satu konsep diterapkan pada yang lain ,  maka saat itu juga ia dapat menyimpulkan, ( tanpa memerlukan dalil , pembuktian , guru atau eksperimen) bahwa  “keseluruhan lebih besar dari bagian-bagiannya”.[6]

Di antara dalil yang digunakan Muthahhari untuk mendukung teori para filosof adalah firman Allah dalam surat al-Nahl : 78  dan al-Ghasyiah  : 21. Sebagai berikut:

والله أخرجكم من بطون أمهاتكم لا تعلمون شيئا وجعل لكم السمع والأبصار والأفئدة لعلكم تشكرون  ( النحل )

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam kaadaan tidak mengetahui suatu apapun. , dan Dia memberi kamu pendengaran, pengelihatan, dan hati agar kamu bersyukur”

فذكر إنما أنت مذكر  (الغاشية )

“ Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu adalah orang yang memberi peringatan”.

Pada ayat pertama dinyatakan bahwa semua bayi yang lahir berada dalam kaadaan bersih seperti lembaran kertas putih, tanpa ada satu goresan apapun. Sedangkan pada ayat kedua Allah menyatakan bahwa manusia itu perlu diingatkan. Artinya didalam diri manusia ada suatu pengetahuan bersifat fitri yang tidak memerlukan dalil dan pembuktian. Dari penjelasan al-Qur’an di atas , maka  jelas bahwa  di dalam diri manusia terdapat pengetahuan yang sumbernya fitri  dan pengetahuan yang  diperoleh melalui pembuktian atau penyusunan dalil dan eksperimen. Akan tetapi kefitrian yang dipaparkan al-Qur’an tidaklah sama dengan teori Plato dan Kant. Manusia memang memiliki pengetahuan yang fitri. Ketika lahir, anak manusia bayi belum memiliki pengtahuan apapun, tetapi pada saat dia sampai pada fase mengkonsepsi sesuatu, maka pembenaran terhadap hal-hal tadi bersifat fitri. Hal ini di sebabkan karena manusia memang memiliki fitrah dalam berpikir untuk mengetahui sesuatu, baik tentang dirinya ataupun tentang hal-hal yang ada di luar dirinya.

Sampurnan, 2002

M. Nawawi


[1] Surat al-Nahl : 78

[2] Plato adalah seorang filosof Yunani yang hidup pada abad ke 5 sebelum masehi

[3] Lihat pada Murtadla Muthahhari, Fitrah …..op.cit. Hal. 32. Bandingkan dengan Muhammad Baqir al-Shodr,  Falsafatuna, terj. ( Bandung : Mizan,  1993) hal. 27

[4] Murtadla Muthahhari, Fitrah …..op.cit, hal. 32-33, Lihat pula pada Muhammad Baqir al-Shadr, ibid, hal. 29

[5] Murtadla Muthahhari, Fitrah…..op.cit., hal. 34

[6] Ibid.

Leave a comment

Filed under Pendidikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s