Kebutuhan Manusia Terhadap Pendidikan

(Coretan Kilas Balik Tentang Kejadian Manusia)

Oleh : M. Nawawi

Dari kajian tentang hakikat manusia di dapat disimpilkan bahwa manusia itu tediri atas dua substansi, yaitu (1) basyar (materi), yang berbahan dasar materi, yaitu bagian dari alam semesta ciptaan Allah saw. Oleh karena itu pertumbuhan dan perkembangannya tunduk dan mengikuti sunnatullah (aturan/ hukum Allah yang berlaku di alam semsta; (2) substansi insan (immateri), yang merupakan wujud hembusan ruh (ciptaan Allah) ke dalam diri manusia, sehingga ia menjadi makhluk organic yang memiliki hakikat kemanusiaan[1]. Atau menurut istilah al-Farabi, manusia terdiri atas dua unsur, yaitu (1) unsur dari alam al-khalq; dan (2) unsur dari alam al-amr (ruh dari perintah Tuhan).[2]

Selanjutnya manusia yang terdiri dari atas dua substansi tersebut telah dilengkapi dengan alat-alat potensi dasar atau dasar-dasar potensi yang disebut dengan fitrah, yang harus dikembangkan dan di aktualkan dalam kehidupan nyata di dunia ini melalui proses pendidikan, untuk selanjutnya dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Sang Pencipta alam ini.

Menurut Ibnu Faris dalam Mu’jam Maqayis al-Lughah, makna “fitrah” menunjukkan pada terbukanya sesuatu dan melahirkannya, seperti orang yang berbuka puasa [3]. Berdasar makna tersebut , maka berkembang menjadi dua makna pokok. Pertama , “fitrah” berarti al-insyiqaq, yang berarti  al-inkisar (pecah)[4]. Kedua, “fitrah” berarti al-khilqah atau al-ibda’ (penciptaan).[5]

Dua makna yang  tersebut saling melengkapi . Makna al-insyiqaq, walaupun lazim digunakan untuk pemaknaan alam , namun sebenarnya dapat digunakan untuk manusia . Alasannya sebagai berikut :

  1. Manusia merupakan mikrokosmos (alam kecil), sedang alam adalah  manusia makro . Manusia merupakan miniatur alam yang kompleks. Fisiknya menggambarkan alam fisikal, sedang psikisnya menggambarkan alam kejiwaan. Dengan demikian segala proses takdir Allah yang terjadi pada alam, sebenarnya juga berlaku pada manusia, seperti konsep penciptaan ini.
  2. Sebelum terjadi spesies manusia baru , semua sel-sel seks (pria dan wanita ) melalui tahapan permulaan perkembangan. Sel seks pria melalui dua tahap yaitu tahap pematangan dan pembuahan. Sedangkan sel seks wanita melalui tiga tahapan, yaitu pematangan, ovulasi dan pembuahan. Pematangan adalah proses pemngurangan kromosom melalui pembelahan sel . Satu kromosom dari tiap pasangan mecari sel yang belum selesai terbelah , yang selanjutnya akan terbelah menurut panjangnya  dan membentuk dua sel baru. Sel yang sudah matang mengandung 23 kromosom. Ovulasi adalah proses lepasnya sel telur yang matang  selama siklus haid, sedang pembuahan adalah bergabungnya dua kromosom (peria dan wanita ) setelah sperma mampu menembus ovum. Penggabungan dua kromosom ini ahirnya membuahkan spesies baru.[6]

Kedua alasan ini memperkuat pernyataan bahwa proses penciptaan manusia melalui tahapan al-insyiqaq ( dalam arti pembelahan), yang secara biologis manusia diciptakan menurut fitrahnya.

Sedangkan  “fitrah” yang diartikan penciptaan merupakan makna yang lazim dipergunakan  dalam penciptaan manusia, baik pisik (al-jism) atau psikis (al-nafs ).

Prof. Dr. Quraish Shihab ketika menjelaskan makna “fitrah “ ini memberikan penegasan yang mirip dengan makna di atas. Dari segi bahasa kata  “fitrah” terambil dari akar kata al-fathr, yang berarti belahan, dan dari makna ini lahir makna-makna lain seperti penciptaan atau  kejadian. Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas tidak tahu persis makna kata “ fatir” pada ayat yang berbicara tentang penciptaan langit dan bumi, sampai ia mendengar pertengkaran  orang yang memperebutkan ssebuah sumur. Salah seorang berkata : “ ana fathartuhu”. Ibnu Abbas memahami kalimat ini dalam arti  saya yang membuatnya pertama kali. Dari pengertian ini Ibnu Abbas memahami bahwa  kata “fitrah” dugunakan untuk  makna  penciptaan atau kejadian sejak awal.[7]. Jadi maka “fitrah” manusia  diartikan sebagai kejadiannya  sejak semula.

Dr. Ahmad Tafsir menjelaskan bahwa “fitrah”  bermakna potensi untuk menjadi baik dan sekaligus merupakan potensi  untuk menjadi buruk, potensi menjadi muslim dan sekaligus potensi menjadi musyrik. Secara sempit dapat diartikan bahwa  “fitrah”  itu artinya adalah potensi beragama dan sekaligus potensi untuk tidak beragama.[8] Pemahaman ini diperkuat dengan mengemukakan  ayat al-Qur’an  surat al-Zumar ayat 8

وإذا مس الإنسان ضر دعا ربه منيبا إليه ثم إذ ا خوله نعمة منه نسي ما كان يدعو إليه من قبل وجعل لله أنداد ا ليضل عن سبيله قل تمتع بكفرك قليلا إنك من أصحاب النار

Pendapat ini menyatakan bahwa  manusia lahir dengan memiliki kemampuan-kemampuan. Kemampuan inilah yang disebut dengan “ fitrah“, Jadi fitrah dalam hal ini bisa disebut sebagai pembawaan. Ia akan berberkembang  dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungannya.  Orang tua merupakan simbol dari lingkungan yang ikut mempengaruhi perkembangannya., Pengaruh ini bisa terjadi pada aspek jasmani,  akal maupun aspek ruhani, Tingkat dan kadar pengaruh ini berbeda satu sama lain, sesuai dengan aspek-aspek pertumbuhan masing-masing. Ketika manusia masih kecil faktor pembawaan akan lebih dominan, sebaliknya ketika ia pada usia dewasa , lingkungan alam dan budaya akan terasa lebih dominan.

Manusia mempunyai banyak kecenderungan . Hal ini disebabkan oleh banyaknya kecenderungan yang dibawahnya. Dalam garis besarnya kecenderungan itu di bagi menjadi dua; yaitu kecenderungan menjadi orang baik dan kecenderungan menjadi orang jahat. Kecenderungan beragama termasuk kecenderungan menjadi baik.[9] Jadi menurut pendapat ini makna “fitrah”  difahami sebagai potensi manusia secara umum, baik yang positif maupun yang negatif sebagaimana diisyaratkan al-Qur’an dalam ayat  7-8 al-Syams :

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا(7)فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا(8)

Bebeda dengan pendapat di atas, Prof. Dr. Hasan Langgulung menyatakan bahwa makna “fitrah” adalah potensi baik. Alasannya karena pengertian menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi sebagaimana dilansir Nabi SAW  adalah bermakna menyesatkan. Artinya  kedua orang tua ( lingkungan ) lah yang merusakkan dan menyesatkan  fitrah yang asalnya suci .[10] Pendapat ini diperkuat dengan pernyataan ayat 30 al-Rum;

فأقم وجهك للدين حنيفا فطرة الله التي فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله ذلك الدين القيم ولكن أكثر الناس لا يعلمون(30)

“Fitrah”  dalam ayat ini difahami sebagai ciptaan Allah , yaitu bahwa manusia telah diberi potensi yang baik , karena itu biarpun anak manusia tidak dididik, maka ia dengan sendirinya akan sesuai dengan ajaran agama, sebab manusia telah diciptakan sesuai dengannya, kecuali jika anak itu dididik sebaliknya, yaitu mengingkari agama. Akan tetapi karena manusia merupakan makhluk sosial, maka ia pasti berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu pendidikan menjadi sangat penting baginya, supaya ia tetap berada pada fitrah aslinya.

Ketika Allah meniupkan  ruh pada manusia  (pada saat proses kejadiannya secara immateri) maka pada saat itu pula  manusia (dalam bentuknya yang sempurna) mempunyai sebagian sifat-sifat ketuhanan sebagaimana yang tertuang dalam al-Asma’ al-Husna. Hanya saja kalau Allah serba “Maha”, sedangkan manusia tidak, dan hanya diberi sebagian saja. Sebagian sifat ketuhanan yang menancap pada diri manusia  dan dibawahnya sejak lahir itulah yang disebut “fitrah”. [11]

Sungguhpun demikian , potensi itu tidak akan berguna jika tidak dimanfaatkan  dalam bentuk kemahiran-kemahiran, laksana emas yang ada di perut bumi tidak akan ada manfaatnya jika tidak digali dan diolah untuk kepentingan manusia.  Untuk mengolah potensi (fitrah) yang tersembunyi itu merupakan tugas utama pendidikan, yaitu  merubah (transform) potensi-potensi  manusia itu menjadi kemahiran-kemahiran yang dapat dinikmati oleh manudsia.[12]

Seirama dengan pendapat Hasan langgulung, prof.  H. M. Arifin, M.Ed, menyatakan bahwa makna “fitrah”  adalah kemampuan dasar untuk berkembang dalam pola dasar keislaman (fitrah Islamiyah) , karena faktor kelemahan diri manusia sebagai ciptaan Tuhan  yang berkecenderungan asli untuk berserah diri kepada kekuasaanNya.[13] Dasar  yang dipergunakan untuk mendukung pendapatnya ini sama dengan yang dipakai oleh Hasan Langgulung, yaitu ayat 30 surat al-Rum.

Faktor pembawaan ini diakui sebagai unsur pokok dalam membentuk corak keagamaan dalam diri manusia. Hal ini digambarkan al-Qur’an ketika menuturkan peristiwa Nabi Ibrahim. Ia adalah seorang yang hidup dan tumbuh dilingkungan masyarakat penyembah berhala, Namun dengan kemampuan akalnya dengan menyelidiki alam semesta, akhirnya mampu menemukan Tuhannya.[14] Sungguhpun demikian, faktor lingkungan tetap penting diperhatikan, sebab ia bisa memperkuat proses pengembangan potensi dan sekaligus bisa juga memperlemah proses pengembangan dimaksud.  Oleh sebab itu  menurut Prof. H.M. Arifin , faktor dasar dan faktor ajar  selalu berdampingan dalam menelusuri perkembangan manusia. Bahkan secara eksplisit dinyatakan bahwa konsep Islam dalam pendidikan beraliran konfergensi ala William Stern; yang berarti Islam  mempertemukan pengaruh dasar dengan pengaruh ajar, pengaruh pembawaan dan pengaruh pendidikan  menjadi satu kekuatan terpadu yang berproses  ke arah pembentukan kepribadian yang sempurna.[15]

Ketika mejelaskan  makna “fitrah” ini Drs. Muhaimin,  M. A. mengelaborasi pendapat yang menyatakan bahwa  fitrah merupakan suatu kekuatan  atau kemampuan (potensi terpendam) yang menetap / menancap pada diri manusia sejak awal kejadiannya, untuk komitmen terhadap nilai-nilai keimanan kepadaNya, cenderung kepada kebenaran  (hanif), dan potensi itu merupakan ciptaan Allah.[16] Pendapat ini memperteguh pendapat kedua dan ketiga di atas. Dengan memberikan ulasan sebagai berikut:

“ …..Nilai ilahiyah yang universal dan manusiawi  yang patut dikembangkan dalam berbagai aspek kehidupan  manusia , bahkan  segala perintah  dan larangannyapun erat hubungannya dengan fitrah.

Jika ditinjau dari aspek tersebut, maka fitrah manusia itu cukup banyak macamnya.  Yaitu (1) Fitrah beragama : fitrah ini merupakan potensi bawaan  yang mendorong manusia untuk selalu pasrah, tunduk, dan patuh kepada Tuhan yang menguasai dan mengatur segala aspek kehidupan manusia; dan fitrah ini merupakan sentral  yang mengerahkan dan mengotrol  perkembangan fitrah-fitrah lainnya; (2) Fitrah berakal budi; fitrah ini merupakan potensi bawaan yang mendorong manusia untuk berfikir dan berdzikir dalam memahami  tanda-tanda keagungan Tuhan yang ada di alam semesta , berkreasi dan berbudaya serta memahami persoalan dan tantangan hidup yang dihadapinya; (3) Fitrah kebersihan dan kesucian; fitrah ini mendorong manusia untuk selalu komitmen  dengan kebersihan diri dan lingkungannya; (4) Fitrah bermoral / berakhlak; fitrah ini mendorong manusia untuk komitmen terhadap norma-norma atai nilai dan aturan yang berlaku; (5) Fitrah kebenaran; fitrah ini mendorong manusia untuk selalu mencari dan mencapai kebenaran; (6) Fitrah kemerdekaan; fitrah ini mendorong manusia  untuk bersikap bebas / tidak terbelenggu dan tidak mau diperbudak oleh sesuatu yang lain kecuali oleh keinginannya sendiri dan kecintaannya kepada kebaikan; (7) Fitrah keadilan; fitrah ini mendorong manusia untuk berusaha menegakkan keadilan di muka bumi; (8) Fitrah persamaan dan persatuan; fitrah ini mendorong  manusia untuk mewujudkan persamaan hak serta menentang diskriminasi ras, etnik, bahasa dan sebagainya, dan beruha  menjalin persatuan dan kesatuan di muka bumi; (9) Fitrah individu; fitrah ini mendorong manusia untuk bersikap mandiri, bertanggungjawab atas segala tindakan yang dilakukan , mempertahankan diri dan kehormatannya, serta menjaga keselamatan diri dan hartanya; (10) Fitrah sosial mendorong manusia untuk hidup bersama , bekerja sama , saling membantu  dan sebagainya; (11)  Fitrah seksual mendorong manusia  untuk mengembangkan keturunannya dan mewariskan tugas-tugas kepada  generasi penerus; (12) Fitrah ekonomi mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melalui aktivitas ekonomi; ( 13) Fitrah politik  mendorong manusia untuk menyusun kekuatan dan kekuasaan yang dapat melindungi kepentingan bersama ; (14) Fitrah seni mendorong manusia untuk menghargai dan mengembangkan kebutuhan seni dalam kehidupannya; dan fitrah-fitrah lainnya.”[17]

Dari beberapa pemaknaan di atas , dapat dirumuskan sebagai berikut

  1. Fitrah merupakan suatu organisasi dinamis yang ada pada diri manusia. Dikatakan “organisasi “ karena dalam diri manusia terdiri atas sistem-sistem yang dapat menimbulkan tingkah laku , baik lahir maupun batin. Dikatakan dinamis karena fitrah yang potensial ini dapar berkembang mencapai kesempurnaan hidup manusia. Pada tataran ini fitrah dipahami sebagai substansi manusia.
  2. Fitrah memiliki suatu citra esensial yang diciptakan Allah sejak awal penciptaannya. Citra ini bersifat unik ( menurut sebagian berujud pada komitmen terhadap nilai kesucian dan kebaikan, dan menurut sebagian lainnya memiliki kemampuan berlaku distruktif disamping kemampuan konstruktif) dan melampaui citra fitrah  makhluk lainnya .
  3. Fitrah manusia memiliki natur, watak, dan sifat serta cara kerja yang  masih bersifat potensial, yang perlu diaktualisasikan  melalui proses yang disebut dengan istilah pendidikan atau pengajaran.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan kebutuhan asasi manusia, tanpa pendidikan manusia tidak dapat mencapai kesempurnaan dirinya sebagai hamba Allah dan sekaligus khalifahNya. Sebagai hamba Allah (sesuai naturnya) ia berkewajiban mengikuti aturan dan mentaati kehendak dan perintahNya. Hanya saja karena diri manusia dilengkapi dengan kemampuan dasar memilih[18] maka ketundukannya kepada Allah tidaklah terjadi secara otomatis, melainkan melalui pilihan dan keputusannya sendiri. Oleh karena itu Allah senantiasa mengingatkannya melalui para Rasul dan para ulama sebagai penerus RasulNya (termasuk para pendidik muslim melalui proses pendidikan) supaya manusia tetap berada pada natur aslinya yaitu patuh dan tunduk kepada Allah swt.

Sebagai khalifah atau mandataris Allah di bumi, manusia berkewajiban memakmurkan bumi ini kearah yang pasitif demi kesejahtraan dirinya didunia ini menuju kesejahtraan akhirat, sebagaimana diisyaratkan Allah dalah surat Hud ayat 16 sebagai berikut :

وإلى ثمود أخاهم صالحا قال ياقوم اعبدوا الله ما لكم من إله غيره هو أنشأكم من الأرض واستعمركم فيها فاستغفروه ثم توبوا إليه إن ربي قريب مجيب

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya[19], karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do`a hamba-Nya).”

Tugas-tugas kekhalifahan tersebut dikembangkan dalam bentuk, : tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri ; tugas kekhalifahan dalam kuluarga/rumah tangga ; tugas kekhalifahan dalam masyarakat dan tugas kekhalifahan terhadap alam.

Tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri menyangkut : (1) tugas menuntut ilmu pengetahuan, karena manusia adalah makhluk yang dapat dan harus dididik/diajar serta mampu mendidik/mengajar ; (2) menjaga dan memelihara diri dari segala sesuatu yang bisa menimbulkan bahaya terhadap dirinya, termasuk menjaga kesehatan dan makanan yang halal (3) menghiasi diri dengan akhlak yang mulya, dan (4) beriman kepada Allah.[20]

Tugas kekhalifahan dalam rumah tangga menyangkut membentuk rumah tangga yang bahagia material dan spiritual/ lahir-batin/ dunia-akhirat. Sedangkan tugas kekhalifahan dalam masyarakat menyangkut  tugas-tugas mewujudkan persatuan umat, tolong menolong dalam kebaikan, menegakkan keadilan dalam masyarakat, dan bertangggang jawan terhadap pelaksanaan amar makruf nahi mungkar.

Adapun tugas kekhalifahan terhadap alam ialah (1) mengelola alam supaya menghasilkan karya dan produk yang bermafaat bagi kemaslahatan manusia ; (2) menghasilkan karya yang sesuai dengan kondisi alam, jangan sampai menimbulkan kerusakan alam yang mengakibatkan malapetaka yang merugikan ; (3) menciptakan budaya yang sesuai dengan nilai-nilai islam (rahmatan lil alamin), sehingga mendorong manusia untuk secara konsisten mengambdi dan mengagungkan Allah, Tuhan semesta alam.

Beranjak dari penjelasan ini, maka pendidikan menjadi demikian urgen, tanpa pendidikan , maka manusia tidak dapat secara optimal mengaktualisasikan potensi-potensi alamiahnya. Manusia memiliki tugas dan amanat untuk hidup beribadah kepada Allah, maka ia harus memiliki bekal iman dan ilmu. Kedua hal ini hanya dapat dicapai dengan sempurna melalui proses pendidikan.

Sampurnan, 21 Juli 2003


[1] Bandingkan dengan  Muhaimin, Drs, M.A. et. al. Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2001) hal. 12

[2] Al-Farabi, Fushush al-Hikam dalam Rasa’il al-Farabi (Hydrabad : t.p. 1926) hal 37

[3] Ibnu Faris Ibnu Zakariya,  Abi al-Husen Ahmad, Mu’jam Maqayis al-Lughah (Kairo : Maktabah Khanjiyi, tt ) juz IV, hal 510

[4] Ibnu Mandzur, Lisan al-Arab, ( Bairut : Dar al-Turats al-Arabi, 1992), jilid IV , hal 55

[5] Ibnu Faris Ibnu Zakariya, Loc.cit.

[6] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Jakarta :  Kramat, 1991) hal. 29 – 30

[7] M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, Tafsir Maudlu’i atas  berbagai persoalan Umat, ( Bandung : Mizan, 1998 ) ha. 283- 284

[8] Ahmad Tafsir, Dr. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, ( Bandung : Rosdakarya, 1992 ), hal. 37.

[9] Ibid, hal . 35

[10] Hasan Langgulung, Prof. Dr. Pendidikan dan Peradaban Islam, ( Jakarta : Pustaka al-Husna , 1985)  hal. 214-215

[11] Hasan Langgulung, Prof. Dr. Manusia dan Pendidikan, ( Jakarta : Pustaka al-Husna, 1996) hal. 15

[12] ,Hasan langgulung,  Prof, Dr. op-cit, hal. 215

[13] H.M. Aririn, Prof. M.Ed.  Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bina Aksara , 1987 ) hal. 160-161.

[14] Lihat pada Surat al-An’am 77-79 فلما رأى القمر بازغا قال هذا ربي فلما أفل قال لئن لم يهدني ربي لأكونن من القوم الضالين(77)فلما رأى الشمس بازغة قال هذا ربي هذا أكبر فلما أفلت قال ياقوم إني بريء مما تشركون(78)

إني وجهت وجهي للذي فطر السموات والأرض حنيفا وما أنا من المشركين(79)

[15] H.M. Arifin, Prof. M. Ed, op-cit, hal. 162

[16] Muhaimin, Drs. M.A., Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2001), hal 16

[17] Ibid, hal 18

[18] Lihat Al-Qur’an Surat Al-Syams, ayat 7-10

[19] Menurut Ibnu al-Arabi dan sebagian ulama’ al-Syafi’i , kata  واستعمركم    bermakna Allah mewajibkan kamu untuk memakmurkan bumi ini dengan proaktif. Selanjutnya lihat pada Tafsir al-Qurtuhubi, pada surat Hus ayat 16

[20] Bandingkan dengan Muhaimin, Drs. M.A. et.al. op-cit, hal. 23

Leave a comment

Filed under Pendidikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s