Hadits Tanawu’ Al-Ibadah

[1]HADITS-HADITS  TANAWU’  AL-IBADAH

TELAAH  ATAS PENDAPAT  IMAM AL-SYAFI’I  DAN  IBNU TAIMIYAH

Oleh : Drs. M. Nawawi, M.Ag

Abstrak : Tidak sedikit hadits-hadits Nabi  saw yang secara lahiriyah bisa menimbulkan pemahaman yang berbeda , tidak sejalan atau bahkan terkesan bertentangan satu sama lain. Dalam menyikapi hal ini  para ulama memiliki pemahaman yang beragam. Sebagian dari pemahaman tersebut menyatakan bahwa hadits-hadits yang terkesan berbeda itu harus diletakkan sebagai bagian dari penjelasan kandungan al-Qur’an. Karena itu tidak mungkin bertentangan satu-sama lain, jika hadits tersebut sama-sama shahih. Pemahaman ini dikenal dengan istilah tanawu’  al-ibadah; sebuah pemahaman yang meyakini bahwa hadits-hadits yang  berbeda secara lahiriyah itu merupakan kebijakan Nabi dalam memberikan alternatif tata-tata cara beribadah kepada ummatnya untuk dipilih dan dilaksanakan secara mana suka sesuai dengan situasi dan kondisinya masing-masing, karena Nabi saw diutus bukan untuk mempersulit, tetapi untuk memberikan kemudahan dan rahmat pada mereka.

Kata kunci: Hadits,  Keragaman ibadah

Pendahuluan

Di antara tugas Nabi Muhammad  saw adalah memberikan penjelasan (baik dalam bentuk ungkapan kata, perbuatan maupun penetapan) terhadap apa yang dipesankan  al-Qur’an.[2] Melalui  perbuatan dan teladannya, Nabi  saw memberikan perincian dan penjelasan operatif tentang ajaran Islam yang dituangkan dalam al-Qur’an.

Manhaj yang ditempuh Nabi saw dalam mengemban missinya (risalahnya), antara lain memiliki ciri  kelapangan dan kemudahan. Hal ini telah dijelaskan di banyak tempat. Antara lain penyataan Nabi saw sendiri sebagaimana diriwayatakan Imam Muslim : “Sesungguhnya Allah tidak mengutusku  sebagai  seseorang yang mempersulit, atau mencari kesalahan orang lain.  Akan tetapi aku diutus  sebagai pengajar dan pembawa kemudahan”.[3]

Dari pernyataan Nabi saw di atas dapat dipahami bahwa ajaran Islam yang disampaikan kepada umat manusia  pasti sesuai dengan kemampuan mereka dan tidak  mungkin menimbulkan kesulitan, baik ajaran yang bersifat ta’abudi atau ta’aquli. Oleh karena itu  jika terdapat pernyataan  ataupun perbuatan  Nabi saw  yang tampak berlawanan atau tidak sejalan satu dengan yang lain, bahkan  mungkin menimbulkan kesan membingungkan, maka boleh jadi sumber  pernyataan tersebut tidak benar-benar berasal dari Nabi saw, atau  mungkin saja pemahaman kita terhadap pernyataan itu kurang tepat.[4]

Di antara hadits Nabi saw yang terkadang tampak tidak sejalan satu dengan yang lain  adalah hadits-hadits tentang tata cara  pelaksanaan  ibadah. Hadits-hadits semacam ini  disebut dengan istilah  “Hadits-hadits tanawu’ al-ibadah”,  yaitu hadits hadits yang menerangkan praktik ibadah tertentu,  yang dikerjakan  Nabi saw, tetapi antara hadits hadits tersebut terdapat perbedaan, sehingga menggambarkan adanya keragaman bentuk peribadatan.[5]

Tulisan ini dikemukakan untuk mendeskusikan bagaimana memahami dan menyikapi hadits-hadits tersebut, supaya memperoleh pengertian yang semestinya terkait dengan keragaman hadits tentang tata cara peribadatan yang  bisa menimbulkan kesan adanya perbedaan, dan  bahkan pertentangan antara satu ketentuan dengan ketentuan lainnya.

Bagaimana Sunnah Nabi Mesti dipahami

Untuk memahami sunnah Nabi saw dengan benar, maka haruslah dibaca dalam kerangka petunjuk al-Qur’an, karena al-Qur’an  merupakan ruh  existensi Islam dan sekaligus asas bangunannya. Sedangkan sunnah Nabi saw   disampaikan sebagai penjelasan rinci dari konstruk tersebut. Namun keduanya berasal dari wahyu Allah. Oleh karena itu  antara al-Qur’an dan sunnah Nabi tidak mungkin terdapat pertentangan. Jika sekiranya terdapat perbedaan atau tidak sejalan, maka  ada dua  kemungkinan. Kemungkinan pertama, hadits yang bersangkutan  tidak shahih, sedangkan kemungkinan ke dua adalah  pemahaman kita yang salah.[6]

Menurut al-Qur’an, Nabi saw selain ditugasi sebagai  utusan Allah, ia juga  seorang  manusia.[7] Dalam sejarah Perjalanan hidupnya, Nabi saw banyak memerankan  berbagai fungsi ; yaitu sebagai hakim, kepala nagara, panglima perang,  kepala rumah tangga (suami dari istri-istrinya), sebagai  kawan dari sahabat-sahabatnya, dan sebagainya.[8] Jika demikian, maka hadits-hadits yang datang dari Nabi saw  mengandung petunjuk  dan pemahaman yang mesti dikaitkan dengan berbagai peran dan predikat yang disandangnya.

Dalam menjalani kehidupannya, Nabi saw senantiasa berinteraksi dengan masyarakat. Tidak jarang pernyataan-pernyataannya berawal dari munculnya pertanyaan yang diajukan kepadanya, atau didorong  oleh  peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Dengan begitu , maka terdapat hadits-hadits  Nabi saw yang didahului oleh  sebab-sebab tertentu.[9] Oleh karena itu dalam memahami hadits Nabi diperlukan pengtahuan tentang latar belakang sosio historisnya.

Dari penjelasan di atas  dapat disimpulkan bahwa  untuk memperoleh pemahaman hadits secara lebih sempurna , tidak cukup hanya mengandalnkan makna tekstualnya saja. Konteks yang terkait dengan kemunculan  suatu hadits Nabi, termasuk suasana psikologi yang menyertai Nabi dan masyarakatnya, perlu memperoleh perhatian yang memadai.

Namun pada saat yang sama kehadiran Nabi saw di tengah-tengah  kaumnya adalah diutus menyampaikan risalah untuk seluruh ummat manusia[10] dan sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta.[11] Dengan demikian kehadiran Nabi saw dengan segala kebijakannya  (sunnah Nabi) ditujukan  sebagai rahmat untuk seluruh manusia , tanpa  dibatasi oleh ruang dan waktu.  Dengan kata lain ajaran yang dibawa Nabi saw , termasuk yang tertuang dalam haditsnya, mempunyai kandungan yang bersifat universal.

Dalam kitab suci al-Qur’an dijelaskan bahwa Nabi saw  dalam menyampainkan dakwahnya  senantriasa berada dalam lindungan dan bimbingan Allah, misalnya  perintah menyampaikan dakwah dengan bijaksana.[12] Jika sekiranya Nabi saw dalam menyampaikan dakwahnya terdapat  kekeliruan, maka pasti Allah akan memberikan koreksi pembetulan.[13] Dengan demikian , maka hadits Nabi saw  (secara teoritik) bisa dinilai sebagai bagian dari  kebijaksanaanya  dalam menyampaikan dan menyebarkan  ajaran Islam, yang secara garis besar telah dituangkan dalam kitab al-Qur’an. Jadi jika memang hadits  merupakan bagian dari kebijakan Nabi  saw, maka mungkin saja  suatu hadits tertentu yang shahih, secara tekstual tampak tidak sejalan (berbeda atau menimbulkan kesan ikhtilaf)  dengan  hadits tertentu yang juga memiliki nilai shahih. Akan tetapi  sesungguhnya  jika ditelusuri, maka makna dan konteksnya  akan ditemukan titik singgung  dan benang merahnya.

Berdasar penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa  hadits Nabi saw sebagai  salah satu dalil utama  ajaran Islam, disamping memiliki sifat  yang universal, ada pula yang  memiliki sifat temporal dan lokal. Karena itu  ada suatu hadits yang  kandungan maknanya lebih tepat dipahami  secara tersurat (tekstual), dan ada pula hadits yang lebih tepat dipahami  secara tersirat (kontkstual).[14]

Hadits , sebagai  berita yang disandarkan kepada Nabi saw, pada umumnya diterima berdasar riwayat bi al-makna, dalam arti bahwa teks tersebut  tidak selalu sama persis dengan apa yang diucapkan Nabi saw, terutama hadits-hadits  fi’liyah yang dilaporkan berdasar pandangan mata (kesaksian sahabat) atas perbuatan Nabi saw.[15] Oleh karena itu  supaya memperoleh pemahaman yang lebih mendekati  kandungan maknanya yang benar, perlu menghimpun hadits-hadits yang berkaitan dengan  tema yang yang sedang dihadapi. Hal ini perlu dilakukan atas pertimbangan bahwa hadits Nabi yang diriwayatkan secara makna itu boleh jadi masih bersifat umum yang masih memerlukan tahsis, dimana tahsis hadits tersebut berada pada  riwayat yang lain. Salah satu contohnya adalah riwayat Imam Muslim dari Abu Dzar al-Ghifari berikut:

Ada tiga jenis manusia, kelak di hari Qiyamat tidak akan diajak bicara (tidak duiperdulikan) oleh Allah; 1) seorang pemberi yang mengungkit-ungkit; 2) seorang pedagang yang suka bersumpah bohong; 3) seorang yang membiarkan sarung (pakaiannya) terjulur melampaui mata kakinya”.[16]

Dalam hadits di atas terdapat ungkapan “seorang yang membiarkan sarungnya terjulur melampaui mata kaki”. Penrnyataan hadits ini jika dipahami berdasar bunyi teksnya saja, maka akan memberikan makna yang sangat umum, mencakup semua orang yang menjulurkan sarung/ pakaiannya, baik dilakukan dengan maksud kesombongan (pasang aksi) atau tidak.

Akan tetapi jika kita perhatikan hadits sejenis yang diriwayatkan Imam Bukhari melalui jalur Ibnu Umar berikut:

Barang siapa memanjangkan kainnya (pakaiannya) karena sombong, maka Allah tidak akan memandangnya (tidak memperdulikan ) besok pada hari Qiyamat. Abu Bakar bertanya kepada Nabi: Ya Rasul, sebelah ujung kainku memanjang ke bawah, tertapi nanti hal itu akan aku perhatikan. Kemudian Rasul menjawab; Engkau tidak termasuk orang yang sobong”.[17]

Maka akan membuahkan pemahaman bahwa yang dimaksud pernyataan hadits “orang yang memanjangkan/menjulurkan kain sarung/pakaiannya” pada hadits yang pertama di atas adalah husus yang dilakukan dengan motivasi membangggakan diri/ menyombongkan diri.

Dari  penjelasan di atas , dapat disimpulkan bahwa untuk memahami sebuah hadits, perlu diketahui juga hadist-hadits lain yang sejenis, supaya tidak terjebak ke dalam pemahaman yang parsial dan sepotong.

Di samping penjelasan di atas, perlu diketahui juga perbedaan antara tujuan yang diharapkan oleh pernyataan suatu hadits, yang bersifat tetap dengan media (wasilah) yang dipergunakan untuk mencapai tjuan tersebut (yang bersifat relatif dan terikat oleh ruang dan waktu tertentu). Dr. Yusuf  Qardlawi  dalam buku al-Madkhal li Dirasat al-Sunnah al-Nabawiyah, menyatakan bahwa di antara penyebab kekeliruan dan kesalah fahaman dalam memahami hadits adalah pencapuradukan  antara maksud / tujuan  yang tetap dan wasilah  yang terikat dengan ruang dan waktu.[18] Oleh karena itu , sebelum menetapkan makna suatu hadits perlu dipahami terlebih dahulu apa yang menjadi tujuan hadits bersangkutan, dan apa yang hanya merupakan wasilahnya saja.

Di antara contohnya ialah hadits riwayat Ahmad bin Hambal, Thabrani dan al-Hakim bahwa Rasulullah bersabda :”Sebaik-baik obat adalah berbekam”[19]. Dr. Yusuf  Qardlawi memberikan komentar bahwa yang menjadi tujuan dan ruh hadits tersebut adalah memelihara kesehatan  dengan cara berobat. Sedangkan berbekam (canduk) merupakan wasilah untuk mecapai tijuan kesehatan.. Memelihara kesehatan dan berobat sebagai ikhtiyar mendapatkan kesehatan , adalah merupakan sesuatu yang bersifat abadi, sedangkan wasilah  dengan menggunakan media canduk merupakan hal yang terikat dengan ruang dan waktu. Oleh karena itu jika di kemudian hari ditemukan wasilah lain yang lebih ampuh, maka tidak ada larangan untuk membuat kesimpulan bahwa pengobatan terbaik bukan melalui cara berbekam/canduk.

Selanjutnya  berhubung hadits itu merupakan verbalisasi (dengan cetak miring) sunnah Nabi , maka untuk mendapatkan pemahaman yang sempurna, diperlukan pengetahuan yang cukup terhadap situasi yang menyertai kemunculannya. Istilah verbalisasi menunjuk pada sebuah rumusan kata yang diperoleh atas dasar pendengaran atau pengelihatan. Dengan demikian maka tidak semua peristiwa dapat terekam dalam bentuk verbal. Atas dasar tesis ini maka sunnah Nabi (yang direkam dalam bentuk verbal dalam hadits) tidak hanya terbatas pada apa yang diverbalkan saja, tetapi mencakup situasi dan kondisi yang melingkupinya.  Dengan demikian al-Hadits bukan keseluruhan  dari sunnah Nabi, tetapi merupakan bagian darinya. Sunnah Nabi dalam konteks ini bisa jadi mencakup sirah Nabi dan hasil internalisasi para sahabat terhadap sunnah Nabi yang terekam dalam al-Qur’an. Sungguhpun demikian hadits Nabi merupakan pintu masuk ke dalam Sunnah Nabi.

Muncul pertanyaan, bagaimana jika terjadi perbedaan antar hadits Nabi, misalnya antara rekaman (verbalisasi) qauliyah dan fi’liyah. Mana di antara keduanya yang dapat disimpulan sebagai sunnah Nabi. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat.[20] Namun  apabila dikembalikan pada makna istilah sunnah Nabi[21], maka keduanya dapat dianggap sebagai sunnah Nabi. Di antara contohnya adalah sabda Nabi yang diriwayatkan Ibnu Umar bahwa shalat witir supaya dilakukan satu rakaat sebagai penutup shalat malam dan perbuatan Nabi sebagaimana dilaporkan A’isyah bahwa Nabi melakukan shalat malam delapan rakaat, kemudian ditutup dengan shalat witir sebanyak lima rakaat dengan satu kali salam, sebagai berikut:[22]

1- حدثنا عبد الله بن يوسف قال أخبرنا مالك عن نافع وعبد الله بن دينار عن ابن عمر أن رجلا سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن صلاة الليل فقال رسول الله عليه السلام صلاة الليل مثنى مثنى فإذا خشي أحدكم الصبح صلى ركعة واحدة توتر له ما قد صلى

 

2- و حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وأبو كريب قالا حدثنا عبد الله بن نمير ح و حدثنا ابن نمير حدثنا أبي حدثنا هشام عن أبيه عن عائشة قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي من الليل ثلاث عشرة ركعة يوتر من ذلك بخمس لا يجلس في شيء إلا في آخرها

Hadits-Hadits Tanawu’ al-Ibadah

Istilah hadits-hadits tanawu’ al-badah adalah hasil  dari upaya Imam al-Syafi’i  dalam menyelesaikan hadits hadits yang dianggap sebagian ulama  sebagai hadits-hadits yang bertentangan atau tidak sejalan.[23] Menurut al-Syafi’i, hadits-hadits yang kelihatan tidak sejalan itu sebenarnya tidak mengandung pertentangan, karena dapat dipertemukan dan dikompromikan satu sama lain.  Pesan-pesan yang dikandung oleh hadits-hadits bersangkutan , meskipun  antara yang satu dengan yang lain mengandung perbedaan,-  tetapi  tidak berarti harus diterima sebagian dengan menolak sebagian yang lain. Bagi al-Syafi’i  semuanya harus dipahami sebagai cara-cara  atau bentuk-bentuk pelaksanaan ibadah yang boleh diikuti  dan diamalkan  secara manasuka ( al-ikhtilaf min jihat al-mubah ).[24]

Dalam konteks ini muncul pertanyaan, bagaimana al-Syafi’i bisa sampai pada kesimpulan tersebut. Di dalam kitab alUm pada bagian Kitab al-Ikhtilaf al-Hadits, al-Syafi’i secara eksplisit tidak menjelaskannya. Tetapi jika diruntut dari sikap dan pendiriannya tentang pemahammannya terhadap hadits Nabi dapat dijelaskan sebagai berikut.

Al-Syafi’i berpendapat bahwa sunnah nabi tidak akan bertentangan dengan al-Qur’an, baik sunnah itu bersifat sebagai tafsir atau sebagai ketentuan tambahan, sebab al-Qur’an sendiri memerintahkan supaya sunnah Nabi itu diikuti. Oleh karena itu apabila terdapat hadits Nabi yang sama-sama shahih, maka tidak akan terjadi pertentangan. Dalam sabda-sabdanya, Nabi saw  terkadang bermaksud meletakkannya sebagai ketentuan yang umum (‘Am), tetapi kadang-kadang  dimaksudkan sebagai ketentuan yang husus. Dalam pada itu terkadang  sabda Nabi disampaikan dalam rangka menjawab pertanyaan dalam suatu konteks tertentu, tetapi terkadang pula  menjawab persoalan yang sama dalam konteks yang lain. Atas dasar kenyataan itu, maka al-Syafi’i berprendapat bahwa tidak akan dijumpai dua hadits atau lebih yang kelihatan bertentangan kecuali ditemukan jalan keluarnya untuk mempertemukan. Kesimpulan ini tidak hanya atas dasar teori, tetapi juga atas dasar pangalaman dan praktik.[25]

Jadi apabila ditemukan dua hadits atau lebih, yang dapat menimbulkan kesan adanya perbedaan atau pertentangan, tetapi sama shahihnya, maka jika menyangkut masalah peribadatan, oleh al-Syafi’i dianggap sebagai ketentuan tanawu’  al-ibadah, yang boleh diamalkan secara mana-suka. Salah satu contohnya adalah masalah ungkapan tasyahhud. Dalam salah satu riwayat dituturkan sebagai berikut:[26]

فقال إن الله هو السلام فإذا صلى أحدكم فليقل التحيات لله والصلوات والطيبات السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين فإنكم إذا قلتموها أصابت كل عبد لله صالح في السماء والأرض أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

Sedangkan dalam redaksi lainnya dituturkan agak berbeda sebagai berikut:[27]

عن ابن عباس أنه قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعلمنا التشهد كما يعلمنا السورة من القرآن فكان يقول التحيات المباركات الصلوات الطيبات لله السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله

Menurut al-Syafi’i, semua redaksi tentang tasyahhud yang beragam tersebut kemungkinan besar semuanya benar. Dalam memberikan pelajaran tentang tasyahhud ini, Nabi kadang-kadang dihadapan jamaa’ah dan kadang dihadapan perorangan. Sebagian menghafal redaksi yang satu, dan yang lainnya menghafal redaksi yang lain dengan makna yang sama yaitu mengagungkan dan memuji Allah swt. Hal ini tidak menjadi mas’alah sebagaimana sebagian para sahabat berbeda tentang sebagain redaksi lafadz al-Qur’an yang tidak berbeda maknanya. Dalam hal ini Nabi tetap mengakuinya dengan mengatakan bahwa al-Qur’an diturunkan tujuh huruf.

Ibnu Taimiyah memberikan penjelasan bahwa macam-macam bentuk peribadatan yang disyari’atkan Nabi  dapat dikerjakan dan tidak ada yang dibencinya, seperti beragamnya redaksi tasyahhud, do’a  iftitah, melakukan shalat witir pada  awal malam atau ahir malam, mengeraskan atau memelankan bacaan pada shalat malam, redaksi iqamat dengan lafat tunggal atau dobel dan lain-lain.[28]

Dalam hal ini Ibnu Taimiyah membagi pendapat para ulama ke dalam dua bagian:

  1. Mereka sepakat bahwa keragaman tata cara peribadatan tersebut boleh diamalkan mana-suka, hanya saja mereka berbeda dalam menentukan mana yang lebih utama di antara keragaman tata cara tersebut.
  2. Mereka berbeda pendapat dalam menentukan mana yang boleh diamalkan dan mana yang tidak boleh diamalkan. Di antara contohnya adalah tentang boleh tidaknya  berpuasa dalam waktu safar (perjalanan/pepergian). Sebagian di antara mereka melarang berpuasa dan mewajibkan untulk berbuka.[29]

Menanggapi  persoalan yang pertama, menurut Ibnu Taimiyah bahwa yang afdlal bukanlah mengikuti salah satunya, tetapi  mengamalkan keduanya secara bergantian.[30] Diriwayatkan melalui Ali bin Abi Thalib bahwa apabila Nabi melaksanakan shalat, maka beliau mengucapkan do’a iftitah :[31]

إنه كان اذا قام الى الصلاة قال وجهت وجهبي للذي فطر السماوات والارض الى قوله من المسلمين

Dalam riwayat lain dituturkan bahwa ketika Nabi ditanya bacaan apa yang diucapkan antara takbiratul ihram dan  pembacaan surat al-Fatihah, maka beliau menjawab, aku mebaca:[32]

عن أبي هريرة قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا كبر في الصلاة سكت هنية قبل أن يقرأ فقلت يا رسول الله بأبي أنت وأمي أرأيت سكوتك بين التكبير والقراءة ما تقول قال أقول اللهم باعد بيني وبين خطاياي كما باعدت بين المشرق والمغرب اللهم نقني من خطاياي كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس اللهم اغسلني من خطاياي بالثلج والماء والبرد

Menurut Ibnu Taimiyah , bahwa yang lebih afdlal dalam mengamalkan do’a iftitah tersebut adalah  menggunakannya secara bergantian, karena tidak ditemukan riwayat yang menuturkan bahwa Nabi melanggengkan do’a iftitah tertentu.[33] Namun demikian tidak ada larangan memilih dan mengutamakan do’a dan tata cara tertentu sesuai  dengan situasi, kondisi dan kemaslahatan yang diperolehnya, sebab setiap yang diciptakan Tuhan, termasuk  macam bentuk peribadatan , pasti memiliki hikmah sesuai dengan konteksnya masing-masing.[34] Artinya pada kaadaan tertentu seorang lebih memperoleh kemaslahatan dengan menggunakan do’a tertentu, tetapi pada saat yang lain ia memperoleh kemaslahatan dan lebik cocok (moot) dengan do’a yang lain. Oleh karena itu keragaman tata-cara beribadah tersebut dimaksudkan memberi peluang supaya orang yang mengamalkan dapat memilihnya sesuai dengan kemaslahatan, sebagaimana agama ini diturunkan sebagai al-hanifiyat al-samhah.

Jadi menurut Ibnu Taimiyah, selama tata cara peribadatan yang dicontohkan Nabi itu tidak dijelaskan sebagai “amalan yang selalu dikerjakan Nabi”, maka keutamaan pengamalannya  tidak terletak pada salah satunya, tetapi menggunakannya secara bergantian.

Sedangkan untuk bagian yang ke dua, yaitu tentang tata cara yang diperselisihkan boleh tidaknya, maka menurut penelitian Ibnu Taimiyah, sebenarnya bukanlah menyengkut persoalan yang diwajibkan atau diharamkan., tetapi hanya menyamngkut persoalan yang mustahabbat dan makruhat yang tidak merusak (membatalkan) peribadatan.[35] Oleh karena itu tidak perlu diperuncing, karena yang diperdebatkan  sebenarnya hanya menyangkut ; apakah perbuatan ( atau do’a) itu diperbolehkan atau dimakruhkan,  atau apakah perbuatan itu  di sunnatkan atau tidak.

Ibnu Taimiyah menyimpulkan bahwa perselisihan dan perdebatan itu  terjadi akibat ketidak tahuan tentang perbuatan yang disyari’atkan, sehingga mereka mengaharamkan  apa yang sebenarnya tidak haram. Atau karena berdasar dugaan mereka saja , sehingga mereka mengharamkan apa yang semestinya diperbolehkan.[36] Maka untuk menghindari kesalah fahaman tentang makna suatu hadits, perlu dilakukan pemahaman yang holistik; yaitu suatu pemahaman yang serupa dengan model pemahaman tafsir  maudlu’i (tematik). Artinya hadits tertentu yang sedang dikaji supaya dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang memiliki satu pembahasan  secara tematik. Salah satu contohnya adalah tentang syari’at qunut subuh. Sebagian ulama Kufah meyakini bahwa syari’at qunut itu  sudah dimansukh, tetapi sebagai ulama Makkah meyakini bahwa Nabi saw senantiasa mengamalkan qunut subuh sampai wafat.  Bagi Ibn Taimiyah, qunut Nabi itu dilakukan karena ada sebab tertentu, dan ditinggalkan juga karena ada sebab tertentu pula. Jadi qunut Nabi itu disimpulkannya sebagai tradisi (sunnah) yang kondisional sesuai dengan faktor-faktor yang mendorongnya. Artinya jika terdapat kaadaan yang mendorongnya, maka dilakukan qunut. Sebaliknya jika faktor-faktor pendorong telah lenyap, maka qunut tidak dilakukan.[37]

Kesimpulan ini diambil atas dasar kenyataan bahwa dalam kitab Shahihat diriwayatkan bahwa Nabi  melaksanakan qunut setelah ruku’, hanya dalam masa satu bulan.[38] Tetapi dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa setelah meninggalkan qunut, Nabi melaksanakan qunut lagi mendo’akan  orang-orang muislim seperti Khalid bin Walid, Salamah bin Hisyam, dan kaum muslimin yang tertindas. Bahkan Anas bin Malik  meriwayatkan bahwa  Nabi melaksanakan qunut  pada waktu shalat maghrib dan subuh.[39] Atas dasar penjelasan tersebut berarti qunut sebagaimana dipraktikkan dalam shalat subuih itu bisa dilaksanakan kapan saja dengan ketentuan yang didak mengikat secara ketat. Bahkan bisa dilakukan pada waktu shalat kapan saja , jika memang hal itu diperlukan. Jadi tindakan menolak qunuit shubuh atau mengharuskannya secara ekstrim  adalah keputusan yang kurang hati-hati., sebaba melaksanakan qunut atau tidak, shalat yang dikerjakannya tetap syah dan tidak batal.

Contoh lainnya adalah tentang membaca basmalah secara keras atau pelan dalam shalat (secara husus dalam konteks membaca surat al-Fatihah)[40] Sebagian ulama menganggap  bahwa mengeraskan bacaan basmalah itu mustahab, sementara yang lain berpendapat makruh. Menurut Ibnu Taimuyah, sebenarnya perbedaan itu tidak perlu dipertentangkan, sebab mereka sendiri sepakat bahwa mengeraskan atau memelankan bacaan basmalah itu tidak membatalkan shalat. Oleh karena itu shalat dengan menggunakan salah satu dari dua cara tersebut  tidak dilarang, sebab masing-masing pendapat didukung oleh riwayat yang bersumber dari Nabi , dan para sahabat juga mengamalkan dua macam cara tersebut. Ibnu Zuber dan kawan-kawannya mengeraskan bacaan , sedang Ibnu Ma’sud dan kawan-kawannya memelankan bacaan. Pada saat yang sama mereka sepakat bahwa shalat mereka tetap syah.[41] Jadi perbedaan itu hanya sebagai bentuk tata cara keragaman  beribadah  (tanawu’  al_ibadat).

Penutub

Dari penjelasan di atas, baik dari tawaran wacana al-Syafi’i maupun Ibnu Taimiyah menunjukkan kesimpulan kepada kita bahwa hadits-hadits tantang tata-cara ibadah, baik berhubungan dengan pelaksanaan ibadah ataupun do’a dan dzikir –apabila terdapat perbedaan atau cenderung memberikan kesan bertentangan- maka dapat dikategorikan sebagai ketentuan tanawu’ al-ibadat. Sedangkan ciri-ciri dan sifat hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Hadits tersebut menyangkut tata cara pelaksanaan ibadah , seperti tata cara shalat witir dan lain sebagainya;
  2. Menyangkut bacaan-bacaan dalam peribadatan, seperti bacaan tasyahhud, ragam bacaan do’a dalam waktu ruku’ atau sujud;
  3. Hadits yang secara lahiriyah (tersurat) menunjukkan makna yang berbeda satu dengan lainnya, namun ajaran yang dikandungnya tidak menunjuk pertentangan ;
  4. Hadits tersebut sama-sama berstatus sebagai hadits yang sama-sama shahih atau maqbul;
  5. Salah satu dari dua hadits yang bersangkutan tidak memiliki bikti bahwa Nabi selalu mengamalkannya. Atau dalam ungkapan lain tidak terdapat keterangan bahwa Nabi senantiasa mengamalkan salah satu dari tata cara yang beragam tersebut.

Sampurnan, 8. 11. 2004

 


[2]sebagaimana dijelaskan pada surat al-Nahl : 44   وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم ولعلهم يتفكرون

[3] Lihat pada kitab Shahih Muslim, bab talak.    إن الله لم يبعثني معنتا ولا متعنتا ولكن بعثني معلما ميسرا

 

[4] M. Syuhudi Ismail, Prof. Dr. Hadits Nabi yang Tekstual dan Kontekstual ( Jakarta : Bulan Bintang, 1994 ) hal. 6

[5] Ibnu Taimiyah, Mu’jam ala-Fatawa, ( Bairut : Dar al-Arabiyah,  1398 H)  juz ke 22, hal 335

[6] Yusuf Qardlawi, Dr. Bagaimana Memahami Sunnah Nabi, (terj.), ( Bandung: Karesma, 1993),  hal 92

[7] Lihat pada surat Ali Imran : 144    وما محمد إلا رسول  , juga surat al-Kahfi  : 110    قل إنما أنا بشر مثلكم يوحى إلي أنما إلهكم إله واحد

[8] Lihat misalnya dalam Philip K. Hitty, History of The Arabs, (London : The Macmillan Press, 1974), hal.  139

[9] Para ulama telah berhasil menghimpun  sebab-sebab wurud hadits kedalam sebuah buku, misalnya al-Bayan wa al-Ta’rif  fi asbab  wurud al-Hadits, karya Al-Syarig Ibnrahim bin Muhammad bin Hamzah  al-Husaini.

[10] Lihat pada surat al-saba’  : 28    وما ارسلناك الا كافة للناس بشيرا ونذيرا

[11] Surat al-Ambiya’  : 107     وما ارسلنا ك الا رحمة للعا لمين

[12] Lihat pada al-Nahl  : 125  dan al-Hijr   : 87 – 99

[13] Penjelasan tentang hal ini bisa dirujuk misalnya pada surat Abasa. Selanjutnya lihat pada  Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adhim ( Singapura  : Sulaiman Mar’i  ,tth)  jus IV,  hal 470-471

[14] Untuk  sekedar contoh adalah hadits Nabi yang menyatakan “ Dunia itu  penjaranya  orang beriman dan surganya orang  kafir”. Hadits ini diriwayatakan oleh Imam Muslim, Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad bin Hanbal  melalui sanad Abu Hurairah.  Melalui pemahaman yang tektual, hadits ini bisa diklaim sebagai dlaif, karena bertentangan dengan kaidah umum ajaran Islam yang memerintahkan umatnya supaya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia dan ahirat. Tetapi jika dipahami secara kontekstual, tentu lebih tepat, karena memang dudunia ini kaum muslimin diberi beban dan rambu-rambu yang membatasi kemauannya. Secara lebih detail bisa dibaca buku Hadits Nabi Yang Tekstual dan Kontekstual, karya Prof. Dr. H.M. Syuhudi Ismail

[15] Sebagai bandingan lihat pada Dr. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, ( Bandung : Mizan, 1993 ), hal. 124-125

[16] Dr. Yusuf Qardlawi, Kajian Kritis Pemahaman Hadits, Antara Pemahaman Tekstuan dan Kontekstual,(Jakarta; Islamuna Press, 1994), hal. 153

[17] Ibid, 156-157

[18] Ibid, hal. 197

[19] Ibid.

[20] Lihat pada Dr. Wahbah al-Zuhaili, Ushul  al-Fiqh al-Islami ( Bairut: Dar al-Fikr, tt) jilid I, hal. 481-484

[21] Menurut Dr. Musthafa A’dhami, sunnah adalah tr5adisi , atau tata cara yang dicontohkan Nabi (termasuk ucapan dan perbuatan). Selanjutnya lihat pada  M.M. Azami, Hadits Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, ( Jakarta: Pustaka  Firdaus, 1994), hal.  19-20

[22] Lihat pada Ibnu Hajar al-Atsqalani, Fath al-Bari (Bairut: Dar al-Fikr, tth) juz III, hal  160, 168. Lihat pula pada Ibnu Hazm, al-Muhalla, juz  III, hal . 43

[23] Lihat pada Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Um, bab ikhtilaf al-Hadits, (Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1993)  juz IX, hal. 541

[24] Ibid.

[25] Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Risalah, ditahqiq oleh Muhammad al-Kailani (Mesir: Musthafa al-Babi al-Halabi, 1969 ), hal 98-101

[26] Ibnu Hajar al-atsqalani, op.cit,  jus II, hal. 575

[27] Muhammad bin Idris al-Syafi’i, al-Um, hal. 543

[28] Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, ( Bairut: Dar al-Arabiyah, 1398 H),  juz 22, hal. 335

[29] Ibid, hal. 336

[30] Ibid, hal. 337

[31] Lihat pada Muhammad bin Isma’il al-Shan’ani, Subul al—Salam, (Bandung: Dahlan, tt) jus I hal. 164

[32] Lihat pada Ibnu Hajar al-Atsqalani, op.cit, juz II, hal 467

[33] Ibnu Taimiyah, op.cit, hal. 343-344

[34] Ibid, hal. 345 dan 347

[35] Ibid, hal. 368-369

[36] Ibid, hal 356-357

[37] Ibid, hal. 372-373

[38] Lihat pada Ibnu Hajar al-Atsqalani, op.cit, ,  juz III, hal. 175

[39] Ibnu Hajar, op.cit, hal. 382- 383

[40] Lihat pada al-Shan’ani. Op.cit, hal. 172-173

[41] Ibnu Taimiyah, op . cit , hal. 369-370

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s