Metode Tahrij Hadits


Secara garis besar cara / metode menakhrij hadis (takhyijul hadis) dapat dibagi menjadi dua cara ; yaitu metode lafadh dan metode tema/ topik, dengan menggunakan kitab-kitab sebagaimana telah disebutkan di atas. Adapun dua macam cara takhrijul hadis yaitu:

1. Menakhrij hadis melalui metode lafadh ini adalah menelusuri/mencari hadis dengan berdasar pada lafadh-lafadh yang ada pada hadis, baik lafadh yang ada di permulaan, pertengahan atau lafadh yang ada di bagian akhir hadis

Salah satu kamus yang dapat dipergunakan untuk melacak asal usul hadis melalui pencarian dengan metode lafadh ini adalah

Kamus yang disusun oleh Dr. Arnold John Wensinck (w. 939 m), seorang profesor bahasa-bahasa Semit, termasuk bahasa Arab di Universitas Leiden, negeri Belanda (diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Muhamad Fuad Abdul Baqi) ini tidak mengemukakan lafal hadis Nabi yang dalam bentuk selain sabda. bahkan hadis yang berupa sabda pun tidak disebutkan seluruhnya. Contohnya, kita ingin melacak asal usul hadis:لا تسافر المرأة إلا مع ذي محرم

Melalui lafadz  سافر  تسافر   ditemukan pada kitab Sunan Abu Dawud Jus II hal. 141, terdapat empat hadis. Ditemukan pula pada kitab Sunan al-Turmudzi juz II hal. 463 terdapat dua hadis. Ditemukan juga pada kitab Sunan Ibnu Majah juz II, hal 927, terdapat dua hadis. Sebagai berikut[1]

حدثنا عثمان بن أبي شيبة وهناد أن أبا معاوية ووكيعا حدثاهم عن الأعمش عن أبي صالح عن أبي سعيد قال قال رسول الله صلى اللهم عليه وسلم لا يحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر أن تسافر سفرافوق ثلاثة أيام فصاعدا إلا ومعها أبوها أو أخوها أو زوجها أو ابنها أو ذ و محرم منها

 

2. Menakhrij hadis dengan berdasarkan topik permasalahan (takhrijul hadis bit Mundu’i)

Upaya mencari hadis terkadang tidak didasarkan pada lafal matan (materi) hadis, tetapi didasarkan pada topik masalah. Pencarian matan hadis berdasarkan topik masalah sangat menolong pengkaji hadis yang ingin memahami petunjuk-petunjuk hadis dalam segala konteksnya.

Pencarian matan hadis berdasarkan topik masalah tertentu itu dapat ditempuh dengan cara membaca berbagai kitab himpunan kutipan hadis, namun berbagai kitab itu biasanya tidak menunjukkan teks hadis menurut para periwayatnya masing-masing. Padahal untuk memahami topik tertentu tentang petunjuk hadis, diperlukan pengkajian terhadap teks-teks hadis menurut periwayatnya masing-masing. Dengan bantuan kamus hadis tertentu, pengkajian teks dan konteks hadis menurut riwayat dari berbagai periwayat akan mudah dilakukan. Salah satu kamus hadis itu ialah:

Al-Mu’jam al-Mufahras li Al-Fadz al-Hadits al-Nabawi

(Untuk empat belas kitab hadis dan kitab tarikh Nabi).

Kitab tersebut merupakan kamus hadis yang disusun berdasarkan topik masalah. Pengarang asli kamus hadis tersebut adalah Dr. A.J. Wensinck (Wafat 1939 M), seorang orientalis yang besar jasanya dalam dunia perkamusan hadis. Sebagaimana telah dibahas dalam uraian terdahulu, Dr. A.J. Wensinck adalah juga penyusun utama kitab kamus hadis:

Miftahu Kunuz al-Sunnah

Bahasa asli dari kitab Miftah Kunuzis-Sunnah adalah bahasa Inggris dengan judul a Handbook of Early Muhammadan. Kamus hadis yang berbahasa Inggris tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab sebagaimana tercantum di atas oleh Muhamad Fuad Abdul-Baqi. Muhamad Fuad tidak hanya menerjemahkan saja, tetapi juga mengoreksi berbagai data yang salah.

Naskah yang berbahasa inggris diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1927 dan terjemahannya pada tahun 1934. Dalam kamus hadis tersebut dikemukakan berbagai topik, baik yang berkenaan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan petunjuk Nabi maupun yang berkenaan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan nama. Untuk setiap topik biasanya disertakan beberapa subtopik, dan untuk setiap subtopik dikemukakan data hadis dan kitab yang menjelaskannya.

Kitab-kitab yang menjadi rujukan kamus Miftahu Kunuz al-Sunnah ini tidak hanya kitab-kitab hadis saja, tetapi juga kitab-kitab sejarah (tarikh) Nabi. Jumlah kitab rujukan itu ada empat belas kitab, yakni:

Dalam kamus, nama dan beberapa hal yang berhubungan dengan kitab-kitab tersebut dikemukakan dalam bentuk lambang. Contoh berbagai lambang yang dipakai dalam kamus hadis Miftah Kunuzis-Sunnah, yaitu:

=j us pertama (awal)                                 = Sunan At-Turmuzi
= bab                                                                  = Musnad Ahmad
= sahih al-bukhari                                                  = Sunan Abi Daud
= Juz ketiga                               = Musnad Abi Daud At-Thayalisi
= juz kedua                                                    = Tabaqat Ibni Saad
= Juz                                                                 = Maghazi AI-Waqidi
= Hadis                                                             = Musnad Zald bin Ali
= juz kelima                                                        = Muatta’ Malik
= juz keempat                                                    = Sunan Ibni Majah
= juz keenam                                              = Sahih Muslim
= halaman (Sathah)                                          = Sunan Ad-Darimi
= Sunan An-Nasai                                      = Sirah Ibni Hisyam
= Bagian Kitab (Qismul-kitab)                = Kitab ( dalam arti bagian)
= Konfirmasikan data yang sebelumnya dengan data yang sesudahnya
= Hadis terulang beberapa kali

Angka kecil yang berada di sebelah kiri bagian atas dari angka yang umum = hadis yang bersangkutan termuat sebanyak angka kecil itu pada halaman atau bab yang angkanya disertai dengan angka kecil tersebut.

Setiap halaman kamus terbagi dalam tiga kolom. Setiap kolom memuat topik; Setiap topik biasanya mengandung beberapa subtopik; dan pada setiap subtopik dikemukakan data kitab yang memuat hadis yang bersangkutan. Cara penggunaannya. Contoh seperti hadis yang dicari adalah yang memberi petunjuk tentang pemenuhan nazar: Dengan demikian, topik yang dicari dalam kamus adalah topik tentang nazar.

Dalam kamus (Miftah Kunuzis-Sunnah) terbitan Lahore (Pakistan), topik nazar termuat di halaman 497, kolom ketiga. Topik tersebut mengandung empat belas subtopik. Subtopik yang dicari berada pada urutan kedua belas, di halaman 498, kolom ketiga. Data yang tercantum dalam subtopik tersebut adalah sebagai berikut :

Dengan memahami kembali maksud lambang-lambang yang telah dikemukakan dalam uraian sebelumnya, maka dapat diketahui bahwa maksud data di atas ialah:

  1. Sunan Abu Daud, nomor urut kitab (bagian): 21; nomor urut bab: 22.
  2. Sunan lbnu Majah, nomor urut kitab (bagian): 11;nomor utut bab: 18.
  3. Sunan Ad-Darimi, nomor urut kitab (bagian): 14; nomor urut bab: 1.
  4. Muatta ‘ Malik, nomor urut kitab (bagian): 22 nomor urut bab: 3.
  5. Musnad Ahmad, juz ll, halaman 159; juz lII, halaman 419; dan juz VI, halaman 266 (dalam halaman itu, hadis dimaksud dimuat dua kali).

Setelah data diperoleh, maka hadis yang dicari, yakni dalam hal ini hadis yang membahas pemenuhan nazar diperiksa pada kelima kitab hadis di atas. Judul-judul kitab (dalam arti bagian) yang ditunjuk dalam data di atas dapat diperiksa pada daftar nama kitab.

Apabila yang dicari, misalnya berbagai hadis Nabi tentang tata cara salat malam yang dilakukan Nabi pada bulan Ramadan, maka topik yang dicari dalam kamus adalah topik Ramadan. Topik tersebut ada di halaman 211, kolom ketiga. Subtopik untuk Ramadan ada dua puluh satu macam. Subtopik yang dicari berada pada urutan subtopik keenam dan terletak di halaman 212, kolom kedua (tengah). Data yang dikemukakan adalah :

Dengan memeriksa lambang-lambang yang telah dikemukanan dalam pembahasan terlebih dahulu, maka data tersebut dapat dipahami maksudnya. Sesudah itu lalu diperiksa hadis-hadis yang termuat dalam keenam kitab hadis tersebut, yakni dalam Sahih Al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan At-Turmuzi, Sunan Abu Daud, Sunan An-Nasai dan Musnad Ahmad.

Sekiranya topik yang dikaji berkaitan dengan nama orang, misalnya Abu Jahal, maka nama tersebut ditelusuri dalam kamus. Nama Abu Jahal ternyata terletak di halaman l5 kolom kedua, subtopiknya ada empat macam. Data untuk subtopik yang pertama, misalnya berbunyi sebagai berikut

(Keburukan tingkah laku Abu Jahal terhadap Nabi SAW.

Dengan demikian untuk mengetahui keburukan tingkah laku Abu Jahal kepada Nabi Muhamad, dapat diperiksa hadis-hadis yang termuat

dalam:

  1. Sahih Muslim, nomor urut kitab (bagian): 50; pada nomor urut hadis: 28
  2. Musnad Ahmad, juz II, halaman 370. Data tersebut agar dikonfirmasikan dengan data yang dikemukakan sebelumnya dan sesudahnya.
  3. Sirah Ibnu Hisyam, halaman 184.

Untuk memperlancar pencarian hadis berdasarkan topik tersebut, perlu dilakukan praktek pencarian hadis berdasarkan data yang dikemukakan oleh kamus. Perlu ditegaskan bahwa berbagai hadis yang ditunjuk oleh kamus belum dijelaskan kualitasnya. Untuk mengetahui kualitasnya diperlukan praktik lebih lanjut.

Selain cara takhrij sebagaimana dijelaskan di atas, ada beberapa cara lagi sebagai berikut:

1. Takhrij dengan permulaan matan; yaitu takhrij hadis dengan melalui permulaan matan dari segi hurufnya, misalnya awal suatu matan dimulai dengan huruf “min”, maka dicari pada bab min. Jika diawali dengan huruf ba’, maka dicari bapa bab ba’ dan seterusnya. Tahtij semacam ini antara lain menggunakan kitab ; “al-Jami’ al-Shaghirf”, karya Imam Syuyuti.

Kitab ini terdiri dari dua juz. Susunan hadis pada kitab ini diurutkan sesuai huruf alfabe Arabt.  Jika kita ingin melacak hadis melalui cara ini, kita harus ingat huruf apa permulaan hadisnya. Misalnya kita ingi mencari dan menelusuri hadis

طلب العلم فريضة على كل مسلم

Maka kita buka bab ط    , kita temukan pada juz 2 halaman 54, terdapat empat 4 periwayatan yang redaksinya berbeda antara lain.

  1. طلب العلم فريضة على كل مسلم وإن طالب العلم يستغفر له كل شيء حتى الحيتان في البخر , ابن عبد البر في العلم عن أنس (صح)
  2. طلب العلم فريضة على كل مسلم وواضع العلم عند غير أهله كمقلد الخنازر والجوهر واللوءلوء (ه) عن أنس (َض)
  3. طلب العلم فريضة على كل مسلم والله يحب إغاثةاللهفان (هب) ابن عبد البر في العلم عن أنس (صح)
  4. طلب العلم فريضة على كل مسلم (عد هب) عن أنس (طص خظ) عن الحسين بن علي(طس) عن ابن عباس عن ابن عمر(طب) عن ابن مسعود (خظ) عن علي (طس هب) عن أبي سعيد (صح)

 

Keterangan lambang-lambang sebagaimana disebut dalam hadis di atas adalah sebagai berikut:

(صح)    = Hadis shaih                        (ه)        = Ibnu Majah

(َض)    = Hadis Dha’if           (هب) = Al-Baihaqi

(طص    = Thabrani dlm al-Shaghir

خظ)    = Al-Khathib              (عد هب)=Ibnu Addi

(طس)   = Thabrani dalam al-Awsath

(طب)   = Thabrani dalam al-Kabir

Dari penjelasan di atas metode ini banyak membantu secara cepat untuk menemukan hadis secara lengkap, dan sekaligus menunjukkan rawi awalnya dan mukharrijnya, bahkan kualitas hadis. Akan tetapi bagi mereka yang kebetulan tidak ingat kalimat awal hadis, maka cara ini agar menyulitkan. Di samping itu, berhubung sanad hadis tidak dicantumkan secara lengkap, maka tidak dapat dilakukan penelitian ulang tentang kualitasnya. Demikian juga tidak dapat digunakan menyimpulkan kaadaan sanad dari sisi jumlahnya.

2. Takhrij melalui rawi pertama; Takhrij ini menelusuri hadis melalui perawi pertama (sahabat Nabi). Dalam hal ini pencari hadis harus tahu siapa rawi pertamanya, kemudian dicari dalam kitab Musnad atau Athraf. Seperti Musnad Ahmad bin Hambal dan Tuhfat al-Asyraf bi Ma’rifati al-Athraf, karya al-Mizzi.

3. Takhrij dengan sifat: Menelusuri hadis dengan cara ini seseorang harus mengetahui dahulu sifat hadis yang hendak dicari, misalnya hadis shahih, hadis qudsi, hadis masyhur, hadis mutawatir, atau hadis dha’if dan lain-lain. Jika seseorang telah mengetahui sifat yang disandang hadis bersangkutan, maka ia bisa membuka kitab-kitab yang menghimpun hadis dimaksud, misalnya kitab al-Maudhu’at karya  Ibnu al-Jauzi atau kitab al-Azhar al-Muntatsirah ‘an al-Akhbar al-Mutawatirah, karya Imam al-Syuyuthi.


[1]Hadits ini dapat dilihat pada Abu Dawud, Sulaiman bin Asy’as, Sunan Abi Dawud, ( Barut : Dar al-Fikr, tth), juz II, h. 141

Leave a comment

Filed under studi hadits

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s