manusia dan kebutuhannya

Manusia dan Kebutuhan Asasinya

(Perspektif  Dr. Muthahhari)

Secara umum, Murtadla Muthahhari membagi tuntutan-tuntutan fitri manusia atas dua hal; yaitu kebutuahn jasmani dan kebutuhan ruhani. Namum ketika membahas dua sisi kebutuhan tersebut, pembicaraan kebutuhan ruhani agaknya lebih dominan dibanding pembahasan tentang kebutuhan jasmani. Mengapa demikian. Muthahhari hanya menyatakan bahwa hal ini (kebutuhan jasmani) bukan merupakan bagian dari pembahasan yang dimaksudkan.[1]

  1. 1. Kebutuahn jasmani

Yang dimaksud kebutuhan jasmani adalah kebutuah-kebutuhan yang seratus persen berkaitan dengan fisik manusia, seperti naluri untuk makan misalnya. Hal ini merupakan urusan fisik  jasmaniyah semata, dan pada saat yang sama ia merupakan naluri. Artinya ia berkaitan dengan bangunan tubuh manusia dan binatang.  Perasaan lapar muncul dari sejumlah syaraf pencernaan yang secara otomatis memberi sinyal ke otak manusia (termasuk binatang). Untuk menghilangkan lapar ini dia harus memasukkan makanan kedalam perutnya. Bahkan kadang-kadang menjadi seperti lelah, akibat kekenyangan.. Demikian pula halnya dengan kebutuhan seksual, yang berkaitan dengan syahwat dan hormon-hormon tubuh serta syaraf-syaraf tertentu.  Persoalan lainnya adalah masalah tidur. Jika disebabkan oleh kelelahan sel  atau mengendurnya aktivitas akibat bekerja dan pengerahan tenaga , maka ia pasti memerlukan istirahat (tidut). Semua ini oleh Mutrhahhari dikategorikan  bagian dari naluri (al-ghara’iz)[2]. Diakui bahwa hal ini memerlukan pembahasan tersendiri secara husus, dan karena itu persoalan ini hanya bahas secara singkat dalam tulisan ini.

  1. 2. Kebutuhan-Kebutuhan Ruhani (apiritual)

Terdapat sejumlah tuntutan dan kecenderungan  fitriyah yang oleh sarjana pesikologi dikategorikan dalam urusan ruhani. Keledzatan yang diperoleh dari kecenderungan ini disebut sebagai keledzatan ruhani.

Di antara faktor yang membedakan manusia dengan binatang dan makhluk lainnya, adalah bahwa manusia dapat menyadari alam di luar dirinya. Atau dengan kata lain manusia dapat berpikir tentang sesuatu yang ada disekelilingnya. Artinya manusia merupakan makhluk yang sadar; sadar akan dirinya dan sadar akan alam di sekitarnya. Oleh karena itu ia mampu membangun relasi  dengan segala  sesuatu yang ada di luar dirinya. Hasil dari jalinan relasi ini disebut pengetahuan. Memang binatang pun memiliki pengtahuan, tetapi sifatnya dangkal, tidak sampai menguasai secara detail, bersifat parsial, regional (terbatas pada wilayah tertentu), dan tidak mampu menembus masa lalu dan akan datang.[3]

Kecuali faktor kesadaran di atas, manusia berbeda dengan binatang dan makhluk lainnya, adalah karena motif-notif yang dimilikinya.  Di satu sisi manusia memiliki motif suci, namun pada sisi lain manusia memiliki motif egois. Motif egois  adalah dorongan-dorongan yang membuat manusia menjadikan dirinya sebagai “pusat” dari segala tindakannya. Karena itu termasuk bagian dari dorongan yang bersifat naluriyah, yaitu dorongan yang juga dimiliki oleh binatang untuk memenuhi tuntutan alam. Sedangkan motif suci adalah dorongan yang menjadikan manusia mencapai keutamaan . Semakin tinggi  bobot kecenderungan suci ini, maka semakin tinggi keutamaannya.  Dengan kedua motif yang dimiliki itu,  maka kecenderungan yang dimiliki oleh manusia menjadi bersifat pilihan dan berdasar kesadaran. Apa yang disebut  “prikemanusiaan” sesungguhnya tak lain adalah kecenderungan-kecenderungan yang berpihak pada hal-hal yang  berbeda dengan kecenderungan binatang[4]. Kecenderungan/ motif yang  berbeda dengan kecenderungan binatang itu (motif suci) disusun atas lima kategori:

a. Mencari Kebenaran

Mencari kebenaran, oleh Muthahhari disebut jua dengan istilah “pengetahuan” dengan tanda petik. Atau katagori “penalaran terhadap dunia luar”. Dorongan ini ada dalam diri manusia untuk menemukan berbagai hakikat sebagaimana adanya.  Artinya manusia ingin mendapatkan pengetahuan tentang alam dan wujud benda-benda dalam kaadaan sesungguhnya.  Teori ini diperkuat dengan mengutip salah satu do’a Nabi saw.,

Ya Allah perlihatkan kepadaku segala sesuatu sebagaimana yang sesungguhnya ada”.[5]

Kecenderungan manusia terhadap filsafat adalah bagian dari kecenderungan mengetahui berbagai hakikat. Oleh sebab itu dorongan mencari kebenaran ini sering pula disebut sebagai kesadaran filosofis. Dorongan ini muncul karena dalam diri manusia terdapat fitrah, dan karena itu pula manusia dapat menerima rangkaian pengetahuan dari luar. Dalam bahasa Arab menalar disebut dengan al-idrak . Artinya adalah naik tangga dan sampai.. Berdasar pengertian ini para failosof menyebut orang yang mencari sesuatu dan menemukannya  dengan istilah Innahu qad adrakahu. Orang ahli psikologi menyebut dorongan ini dengan istilah “dorongan ingin tahu”.[6]

Mengutip pendapat pada ahli, Muthahhari menyatakan bahwa dorongan ingin tahu mulai muncul pada diri anak sejak mereka berumur antara dua tahun setengah, atau tiga tahun. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh sang anak. Jika orang tua tidak pandai menyikapi, maka perkembangan kemampuan ini bisa terhambat, dan akan merusak pertumbuhan kecerdasan anak bersangkutan.[7]

Hampir dapat dikatakan bahwa para ahli sepakat bahwa manusia memang memiliki sifat selalu ingin tahun tentang kebenaran (pencari kebenaran), namun diperselisihkan, apakah  dorongan rasa ingin tahu itu merupakan bawaan asli manusia, atau  hanya merupakan tuntutan sosial yang harus mereka lakukan. Artinya apakah kecintaan manusia pada pengetahuan itu karena pada dasarnya manusia sebagai makhluk pencari kebenaran, atau karena manusia tahu bahwa dalam pengetahuan itu terdapat manfaat yang akan diperoleh manusia.

Terdapat beberapa teori yang dikemukakan para filosof. Antara lain adalah pendapat kaum Materialis. Mengapa manusia menyintai dan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Kelompok ini memandang  bahwa antara manusia dan binatang tidak ada perbedaan. Segala  perbuatan yang dilakukan manusia dibangun atas dasar “naluri”, dan bahwa seluruh keinginan manusia hanyalah untuk mempertahankan hidup dan kehidupannya yang berhubungan dengan fisik dan material.  Dalam rangka memenuhi semua kebutuhan hidupnya itu, manusia memerlukan hal-hal lain. Misalnya tentang hukum. Ia memelukan hukum karena kepentingan individunya supaya tidak terganggu orang lain. Mengapa mereka membantu orang lain, jawabnya karena ia sendiri juga memerlukan bantuan orang lain.  Karena kehidupan sosial yang demikian ini , maka mereka memerlukan peraturan,  supaya setiap orang mengetahui hak dan kewajibannya. Mengapa manusia memelukan keadilan. Jawabnya karena masing-masing tidak mau diperlakukan secara dzalim. Ketika manusia masing-masing melihat kebutuhan sosialnya  seperti itu, maka mereka terpaksa menerima hukum dan keadilan. Dengan kata lain, karena manusia melihat ilmu pengetahuan maerupakan sarana yang paling baik dalam mencapai kesejahtraan materialnya, maka terjadilah pensakralan terhadap ilmu. Sekiranya tidak ada tujuan seperti itu, niscaya tidak mungkin ada pensakralan terhadap ilmu pengetahuan, dan karena itu belajar tidak mungkin hanya untuk belajar. Belajar tampa tujuan material, dianggap tidak memiliki nilai.[8]

Menaggapi pendapat di atas,  Muthahhari menyatakan sebagai berikut :

“Bila kita menolak perolehan pengetahuan sebagai hal yang bersifat fitri, maka kita akan sampai pada jurang keraguan yang sangat menakutkan, yakni keraguan total  yang menyeret kita pada jurang penafian pengetahuan dan penalaran, bahkan pada penafian kebenaran secara total”[9]

Selanjutnya, untuk membuktikan bahwa kecintaan dan kecenderungan manusia terhadap ilmu pengetahuan bukan sekedar mempertahankan hidup dan kehidupannya yang fisik dan material, tetapi memang muncul dari dirinya sebagai pencari kebenaran, Muthahhari  mengangkat nilai idealitas yang ditegakkan oleh manusia.

Sebagaimana dijelaskan di depan bahwa di antara perbedaan manusia dengan binatang adalah karena memiliki kesadaran, sadar akan dirinya dan sadar akan lingkungan sekitarnya. Pengetahuan manusia tidak terbatas pada ruang dan waktu. Ia mengatasi ruang dan waktu itu sendiri. Di satu pihak manusia mampu mengetahui peristiwa sebelum dilahirkan, dan dipihak lain manusia mampu menembus planet-planet di luat bumi. Dia mengetahui sejarahnya sendiri dan sejaran dunia, mengetahui masa lalu dan masa depannya. Dari sudut  ambisi dan aspirasinya, dia adalah makhluk yang idealistis. Sasaran yang ingin dicapai bukan hanya terbatas pada hal-hal yang bersifak fisik dan material, tetapi juga yang bersifat non fisik dan tidak mendatangkan keuntungtan secara material. Sasaran seperti ini merupakan sasaran ras manusia seluruhnya, dan tidak terbatas pada dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Karena demikian tingginya cita dan idealitas manusia, maka dia seringkali lebih membela akidah dan ideologi yang dianut dari pada yang lain. Bahkan melayani orang lain dianggap lebih penting dibanding diri dan keluarganya. Dalam sejarah para pejuang, digambarkan bahwa demi sebuah cita yang suci, maka jiwa dan seluruh hartanya siap dikorbankan. Manusia memang penuh dengan dedikasi terhadap akidah dan ideologi yang diyakini.[10]

Atas dasar realitas kemanusiaan ini, jelas bahwa teori yang memandang manusia dari sudut pandang material adalah pendapat yang menyesatkan. Oleh karena itu, penghargaan dan dorongannya untuk menemukan hakikat pengetahuan dan kebenaran, tidak boleh disamakan dengan pengetahuan ras binatang / hewan. Maka kecintaan manusia terhadap pengetahuan adalah bagian dari kecenderungannya yang fitri, yang bersumber dari jiwa-ruhaniyah manusia.

b. Kebutuhan moral (akhlak)

Dorongan lain yang tersembunyi dalam diri manusia adalah berpegang pada nilai-nilai moral, dan ini tergolong dalam kategori nilai-nilai utama, atau dalam istilah lain sebagai akhlak al-karimah. Manusia memang memiliki kecenderungan terhadap banyak hal, di antaranya adalah ingin mengambil manfaat dari berbagai aktivitas yang dilakukan atau manfaat dari harta benda guna memenuhi ego-sentrisnya (kesenangan pribadi). Hal ini merupakan satu hal yang alami, sebab manusia memang senantiasa ingin mempertahankan hidupnya.

Tetapi manusia juga mempunyai kecenderungan untuk memperoleh keutamaan dan kebaikan spiritual. Menurut Muthahhari, antara manfaat dan kautamaan memang berbeda dan harus dibedakan. Manfaat adalah kabaikan materi, sedangkan keutamaan adalah kebaikan ruhani (spiritual). Pada dasarnya manusia pasti menyintai kejujuran, dan benci kebohongan. Ketergantungan manusia terhadap kejujuran, amanat, keadilan dan sebagainya merupakan bukti bahwa manusia mencintai keutamaan.  Ketergantungan jenis ke dua ini pada umunmya dibagi atas dua kategori; Bersifat individual dan sosial. Contoh keutamaan individu adalah ketergantungan  manusia terhadap pengendalian diri, keberanian, stabilitas emosional, kesabaran dan sebagainya. Sedangkan yang bersifat sosial misalnya  bekerja sama , membantu orang lain, kerja sosial, berkorban untuk orang lain dan sebagainya.[11]

Untuk memperkuat pendapatnya ini Muthahhari mengitip antara lain pendapat William James, seorang failosof dan ilmuan terkemukan di Amerika, menyatakan bahwa kendatipun terdapat keinginan-keinginan batin yang bersumber dari kondisi fisik manusia, namun banyak pula keinginan yang tumbuh dari alam di balik alam material. Buktinya banyak perbuatan manusia yang tidak sejalan dengan perhitungan material. Dalam setiap kegiatan keagamaan kita selalu dapat melihat berbagai sifat dan bentuk , seperti kejujuran, ketulusan , keramahan, pengorbanan dan sebagainya.[12] Semua ini merupakan bukti  bahwa dalam diri manusia terdapat realitas ruhaniyah yang mendorong  mencapai keutamaan moral.

Memang bagi filosof yang menganut faham materialisme, sangat sulit menerima kenyataan ini. Mereka menganggap bahwa nilai-nilai moral tak lebih dari aksioma-aksioma yang dibuat oleh manusia-manusia usil. Bahkan Nietzsche, salah seorang eksistensialis menyatakan bahwa  apa yang selama ini dikenal dengan sebutan moral hendaknya dibuang.[13] Mereka memang tidak bisa menyadari bahwa manusia  adalah makhluk yang multi dimensi. Bagi mereka, mengakui manusia sebagai susuatu yang fisik di satu sisi, dan pada saat yang sama  memiliki nilai kemanusiaan adalah sebuah kemustahilan, sebab hal ini dipandang kontradektif. Padahal dalam al-Qur’an jelas dinyatakan bahwa struktur manusia  tersusun atas dimensi Malaikat-binatang..Sehingga melahirkan dua dorongan ; dorongan menuju ke atas dan dorongan menuju kebawah (dorongan suci dan rendah). Allah telah memberi manusia akal dan kemauan , lalu membiarkannya dipersimpangan jalan supaya bebas memilih jalan yang dilalui sebagaimana dinyatakan dalam surat al-Insan : 3

إنا هديناه السبيل إما شاكرا وإما كفورا

“Sesungguhnya kami telah menunjukkan jalan yang lurus; ada dianmtara mereka yang bersyukur dan ada pula yang kufur”

Atas dasar penciptaan inilah, maka manusia selalu berada dalam dua tarikan . Mereka yang berhasil mengikuti bimbingan akal-langitnya, maka akan berada dalam barisan kebenaran Allah. Sebaliknya mereka yang  mengikuti naluri binatang-tanahnya, maka akan mendapatkan predikat rendah bahkan lebih redah dari binatang,  sebagaimana disebut pada surat al-A’raf ; 179 :

ولقد ذرأنا لجهنم كثيرا من الجن والإنس لهم قلوب لا يفقهون بها ولهم أعين لا يبصرون بها ولهم ءاذان لا يسمعون بها أولئك كالأنعام بل هم أضل أولئك هم الغافلون.

c. Kebutuhan estetika

Tidak ada seorang manusiapun yang sepi dari rasa suka terhadap keindahan. Manusia pasti tertarik secara total terhadap keindahan, baik keindahan dalam akhlak maupun keindahan bentuk. Oleh karena itu setiap orang selalu berusaha agar penampilannya terlihat indah dan serasi, baik dalam hal berpakaian maupun bertindak. Berpakaian memang ditujukan untuk melindungi diri panas mata hari atau dinginnya cuaca, tetapi keindahan tata busana tetap tidak diabaikan menurut selera dan ukuran masing-masing. Demikian pula dengan seni yang bererti bentuk-bentuk yang indah, juga akan menarik manusia cenderung kepadanya. Ketergantungan manusia terhadap keindahan seni ini bisa diekspresikan dalam berbagai bentuknya; mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling tinggi nilainya dan mahal harganya. Nilai peradaban atau kebudayaan suatu bangsa akan tercermin pula pada seberapa tinggi penghargaan dan apresiasi seni bangsa yang bersangkutan. Semakin tinggi apresiasi suatu bangsa, akan menjadi bukti ketinggian peradaban yang dimiliki. Oleh karena itu kecenderungan ini merupakan bagian integral dari eksistensi manusia dan senantiasa  melingkupi seluruh kehidupannya, baik secara individu maupu kolektif. [14]

Bagi binatang, keindahan sama sekali tidak berarti, Keburukan atau keelokan tempat makanannya, tidak menjadi persoalan bagi binatang. Yang penting adalah makanannya secara materiel, bukan keindahan makanan. Binatang tidak akan peduli dengan pelana yang bagus, tempat tinggal yang bagus dan sebagainya. Hal ini membuktikan bahwa manusia tidak bisa dipandang sama dengan binatang secara material. Salah besar pendapat yang menyatakan bahwa manusia sepenuhnya adalah hal yang fisik, dan tidak memiliki wujud spiritual.

d. Kreasi dan Penciptaan

Dalam diri manusia terdapat sejumlah dorongan  untuk membuat sesuatu yang belum dibuat orang lain.. Salah satu bukti antara lain terlihat pada kegembiraan seorang anak kecil yang telah berhasil mebuat sesuatu. Saat itu dia merasakan perwujudan eksistensinya sebagai manusia. Pada kasus yang sama bisa dilihat kegembiraan seorang sarjana yang telah berhasil menemukan teori baru. Kreativitas dan daya cipta ini bisa teraktualisasi dalam bentuk yang beragam. Bisa dalam bentuk fisik, seperti membuat konstruksi bangunan atau rancang bangun di bidang  arsitektur, atau dalam bentuk yang non fisik, seperti mengatur negara, merekayasa masyarakat, membentuk sistem pengajaran dan sebagainya. Dengan demikian kecenderungan semacam ini  merupakan bukti kefitrian manusia dalam mencipta sesuatu, sebab setiap orang pasti senang membuat sesuatu. [15]

Sebaliknya di dunia binatang tidak akan ditemui dorongan seperti ini. Bisa dibuktikan pada semua ciptaannya. Ketika seekor burung merpati membuat sarang, maka bisa diperhatikan bentuk dan karakternya sama dengan sarang milik merpati yang lain. Demikian pula yang terjadi pada sarang-sarang burung lainnya. Tidak demikian halnya dengan manusia . Sedapat mungkin pembuatan sesuatu yang dilakukan didesain sedemikian rupa , sehingga  memiliki perbedaan, walau hanya sedikit. Jika ia ingin membuat sesuatu yang sama persis dengan milik / ciptaan orang lain., maka hal ini dilakukan atas dasar kesadaran dan pilihan bebasnya, sehingga pembuatan itu dapat digunakan sebagai bukti kreativitasnya untuk mencipta sesuatu yang sama persis. Sedangkan binatang tidak memiliki kesadaran dan kebebasan. Apa yang dilakukan binatang hanyalah mengikuti kehendak naluriahnya secara otomatis.

e. Kerinduan dan Ibadah

Kategori ke lima adalah kebutuhan akan kerinduan dan ibadah. Munurut Muthahhari, kedua kebutuah ini bersifat fitri. Hal ini bisa dibuktikan antara lain melalui  penkajian ilmu antropologi, di sana akan diperoleh kesimpulan bahwa di mana dan kapan-pun manusia ada , maka di situ pasti ada pemujaan dan penyembahan. Yang berbeda adalah bentuk pemujaan dan Tuhan yang disembah. Menyembah atau ibadah bukanlah rekayasa para Nabi dan Rasul, tetapi ia merupakan bagian fitri manusia . Kondisi ini bisa diruntut mulai dari dorongan kerinduan (al-Isyqu). yaitu merupakan kondisi yang lebih tinggi dari cinta.[16]

Cinta dalam tingkatan yang biasa terdapat pada semua  orang secara normal . Ada cinta sesama sahabat, cinta suami istri, cinta murid dan guru, cinta orang tua dan anak dan lain-lain. Berbeda dengan cinta, kerinduan bisa membuat orang keluar dari kondisi normalnya, sehingga lupa makan dan minum, dan memusatkan perhatiannya pada al-ma’syuq (sesuatu yang dirindukan). Dengan kerinduan seseorang dapat memperoleh kondisi menyatu dengan yang dirindukan. Kondisi seperti ini tidak dimiliki oleh binatang , sebab ikatan yang ada pada binatang hanyalah terbatas pada sisi material (bologis) semata yang disebut kerinduan seksual. Kerindual ini akan berhenti manakala telah terpenuhi dengan menyalurkan keinginan syaraf-syaraf tertentu., sebab itulah keinginan yang menjadi tujuan.

Ibnu Sina, Nashiruddin Thusi dan Mulla Shadra membagi kerinduan manusia menjadi dua kategori; yaitu kerindual seksual atau majazi, dan kerinduan ruhani atau nafsani. Berbeda dengan kerinduan majazi (seksual), kerinduan ruhani merupakan hakikat metafisik yang menyatu pada ruh manusia  setelah manusia menemukannya. Jika kerinduan majazi bisa mendorong sang  “perindu”  untuk mengorbankan apa saja yang dimiliki, maka kerinduan ruhani akan lebih tinggi lagi, kerinduan yang mendorong manusia untuk melakukan pemujaan kepada zat yang mutlak, sehingga ia dapat melakukan pengabdian spiritual.[17]

Oleh karena penyembahan merupakan kebutuhan fitri manusia, maka kedatangan para Nabi (Rasul) dan para penerusnya hanayalah mengajarkan cara beribadah yang benar. Selanjutnya Muthahhari menjelaskan bahwa menurut ajaran agama (dan sebagaian pakar sejaran seperti Max Mueller) , manusia purba adalah manusia yang bertauhid. Penyembahan berhala dan sebagainya meruapakan penyimpangan yang terjadi di kemudian hari. Jadi menurut tesis ini proses ke-tauhid-an manusia bukan diawali dari penyembahan berhala kemudian setelah perkembangan budaya semakin maju, lalu manusia menyembah Allah.[18]

Untuk memperkuat pendapatnya ini, Muthahhari mengutip beberapa teori yang dikemukakan para ilmuan Barat sebagai berikut:

  1. Will Durant, penulis yang tidak percaya kepada agama manapun, mengatakan “ Agama memiliki seratus jiwa. Segala sesuatu bila telah dibunuh pada  kali pertama, maka ia akan mati untuk selamanya, kecuali agama. Sekiranya ia seratus kali dibunuh, ia akan muncul lagi dan kembali hidup setelah itu”.[19]
  2. Alexis Carell mengatakan “Do’a merupakan gejala keagamaan yang paling agung bagi manusia. Karena pada kaadaan itu jiwa manusia terbang  melayang kepada Tuhan. Pada batin manusia ada seberkas sinar yang menunjukkan kesalahan-kesalahan manusia, yang kadang-kadang dilakukan. Sinar inilah yang mencegah manusia dari terjerumus kedalam perbuatan dosa. Manusia pada beberapa kaadaan merasakan kebesaran dan ampunan Tuhan.[20]
  3. Einstein menyatakan “ Ada agama dan akidah yang bersemayam pada setiap pikiran tanpa kecuali, meskipun takkan anda jumpai keseragaman cara menghayalkannya….Aku menyebut akidah ini  sebagai perasaan keagamaan yang melekat pada wujud alam semesta”.[21]

Selanjutnya Muthahhari menjelaskan bahwa fitrah  itu ada dua dan tidak ada sesuatupun yang mencegah penyatuannya. Keduanya menyatu yaitu fitrah menalar (fitrah idrakiyah) dan fitrah merasa (fitrah ihsasiyah). Secara rinci penjelasan itu adalah sebagai berikut:

“Fitrah menalar (fitrah idrakiyah) adalah fitrah yang mengatakan bahwa agama atau tauhid pada khususnya, jika dilihat dari sisi penalatan pemikiran, merupakan sesuatu yang fitrah pada diri manusia . Ia adalah konsep yang dapat diterima akal. Artinya untuk menerima kebenaran konsep-konsep tersebut tidak diperlukan pengajaran dan pendidikan di sekolah-sekolah, Apa yang saya sebut dengan penalaran fitrah , saya maksudkan sebagai segala sesuatu yang tidak membutuhkan dalil atau pembuktiah demonstratif (burhan), sebab sejak awal sudak sedemikian jelas. Atau jika membutuhkan dalil , maka dalil tersebut telah ada di dalamnya. Itulah yang saya maksud dengan istilah penalaran fitrah (al-Idrak al-Fitriyah). Ia berkaitan dengan alam pemikiran dan penalaran akal.”

“Jenis fitrah yang kedua adalah fitrah merasa (al-Fitrah al-Ihsasiyah), yaitu mengahadapkan diri kepada Allah dan agama dengan perasaan-perasaan  dan kesadaran fitri. Dengan demikian kita bisa mengatakan , sesungguhnya manusia mengetahui Allah dengan fitrahnya, dan pada kesempatan lain kita mengatakan bahwa manusia dengan fitrahnya cenderung kepada Allah dan tertarik kepadaNya.”[22]

Untuk menyempurnakan pendapatnya di atas Muthahhari juga mengutip beberapa ayat al-Qur’an. Antara lain surat al-Rum : 30 dan surat al-A’raf : 172 .

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan llurus kepada agama (Allah), fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.”(al-Rum :30)

Ia adalah fitrah (kata Muthahhari) yang saya sebut sebagai sejenis ciptaan , yang dengan itu Allah menciptakan Manusia. Dan ia tidak akan berubah, sebab merupakan bagian dari watak manusia yang dengan itu ia diciptakan dan tidak mungkin diubah. Ayat ini menerangkan secara jelas bahwa agama itu adalah fitrah. Ayat dibawah ini secara gemblang menjelaskan pengakuan fitrah manusia terhadap terhadap ketuhanan Allah :

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam sari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadal jiwa mereka, (seraya berkata); Bukankah Aku ini Tuhanmu. Mereka menjawab; Betul. (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.”(al-A’raf : 172)

Sampurnan, Agustus 2003

M. Nawawi


[1] Lihat pada Ibid, hal. 44

[2] Ibid,  hal 23-24

[3] Murtadla Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta (terj.) , ( Jakarta  : Lentera,  2002 ), hal. 2

[4] Murtadla Muthahhari,  Fitrah, ……op.cit, hal. 49-50

[5] Terdapat suatu do’a yang senantiasa dibaca kaum muslimin supaya senantiasa dalam kebenaran     اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه

[6] Murtadla Muthahhari, Fitrah ,…..op.cit, hal  47, 51

[7] Ibid, hal. 53

[8] Ibid, hal 68 -69

[9] Ibid. hal 46

[10] Murtadla Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta,…..op. cit., hal 3

[11] Lihat Murtadla Muthahhari, Fitrah….., op.cit, hal. 56

[12] Murtadla Muthahhari, Perspektif al-Qur’an tentang Manusia dan Agama, …..op.cit., hal. 49

[13] Murtadla Muthahhari, Fitrah,…..op.cit, hal.  70, 72

[14] Bandingkan dengan Murtadla Muthahhari, Perspektif al-Qur’an tentang Manusia dan Agama, ….op.cit. hal. 128,  Manusia dan Alam Semesta,…..op.cit, hal. 223-224, Fitrah…..op.cit. hal 56-57

[15] Ibid, hal. 58

[16] Ibid, hal, 59. Bandingkan dengan pengarang yang sama, Manusia dan Alam Semesta…op.cit, hal 224

[17] Lihat pada Murtadla Muthahhari, Fitrah …op.cit, hal 61-66

[18] Murtadla Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, …op.cit. hal  225

[19] Murtadla Muthahhari, Perspektif Al-Qur’an Tentang Agam,a dan Manusia,….op.cit, hal. 41

[20] Ibid., hal 50

[21] Ibid,  hal. 51

[22] Murtadla Muthahhari, Fitrah,…..op.cit,  hal 195 dan 197

Leave a comment

Filed under Pendidikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s