Puasa Dalam Perspektif Sunnah Nabi

Oleh: M. Nawawi

Pendahuluan

Puasa merupakan terjemahan kata Arab yang diambil dari akar kata “sha-wa-ma”. Dari segi bahasa maknanya “menahan, berhenti, atau tak bergerak” Seseorang yang berhenti dari segala aktivitas disebut “shaim”. Kemudian oleh hukum syar’i digunakan sebagai istilah untuk menamai kegiatan ibadah  berupa “menahan diri dari makan- minum dan upaya mengeluarkan sperma mulai dari terbitnya fajar sampai dengan terbenamnya mata hari”.(M.Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, 1998) Dari pengertian istilah tersebut, maka pada hakikatnya puasa adalah menahan dan mengendalikan diri.

Puasa Ramadlan mulai diwajibkan kepada kaum muslimin pada bulan Sya’ban tahun ke dua Hijriyah supaya dijadikan sebagai wahana mencapai predikat muttaqin (bertaqwa kepada Allah swt) sebagaimana ditegaskan dalam ayat 183 al-Baqarah. Sedangkan puasa sunnah sudah dilakukan Nabi dan kaum muslimin sebelum kewajiban puasa Ramadlan, sebagaimana diisyaratkan hadits Nabi yang diriwayatkan melalui Sayidah A’isyah berikut:

حدثنا أبو اليمان أخبرنا شعيب عن الزهري قال أخبرني عروة بن الزبير أن عائشة رضي الله عنها قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أمر بصيام يوم عاشوراء فلما فرض رمضان كان من شاء صام ومن شاء أفطر- رواه البخاري

Puasa bukan hanya sebagai tradisi Islam yang diajarkan Nabi Muhammad saw saja, tetapi ia merupakan tradisi umat beragama sepanjang zaman sebagaimana diisyaratkan al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi puasa menempati peran penting dalam proses pembentukan keberagamaan. Apa sebenarnya hakikat makna dan nilai puasa dalam proses peningkatan kualitas keislaman seseorang. Tulisan ini akan mengetengahkan urgensi dan nilai  puasa dalam perspektif sunnah Nabi saw.

Makna Puasa Menurut Hadits Nabi saw.

حدثنا عبد الله بن مسلمة عن مالك عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال الصيام جنة فلا يرفث ولا يجهل وإن امرؤ قاتله أو شاتمه فليقل إني صائم مرتين والذي نفسي بيده لخلوف فم الصائم أطيب عند الله تعالى من ريح المسك يترك طعامه وشرابه وشهوته من أجلي الصيام لي وأنا أجزي به والحسنة بعشر أمثالها- أخرجه البخاري

Artinya: Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda: ”Puasa itu merupakan perisai/pelindung. Oleh karena itu (siapa yang berpuasa) janganlah berbuat rafats(berkata kotor) dan bertindak bodoh. Jika seseorang hendak membunuhnya atau mengolok-olok, maka katakanlah “ Saya sedang menjalankan puasa”, sebanyak dua kali. Demi Tuhan yang Menguasai jiwaku, sesungguhnya aroma mulut orang yang berpuasa itu lebih harum menurut Allah dibanding aroma minyak misik. Ia telah meninggalkan makanan , minuman dan nafsu syahwatnya demi Aku(Allah). Puasa itu untukKu dan Aku sendiri yang akan akan memberikan balasannya. Sedangkan kebaikan (selain puasa)akan dibalas sepuluh kali lipat”.

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dengan redaksi yang agak berbeda sebanyak kurang lebih 4 x, Muslim 6x, al-Turmudzi 5x, Abu Dawud 1x, Ibnu Majah  2x, Imam Ahmad 12x dan Malik 1 x. melalui sanad yang berbeda. Jika diperhatikan sanad hadits yang diriwayatkan al-Bukhari di atas, yang diriwayatkan dari Abdullah bin Maslamah, dari Malik bin Anas, dari Abi al-Zinad (Abdullah bin Dzakwan), dari al-A’raj (Abdurrahman bin Hurmuz), dari Abu Hurairah, maka hadits ini dapat dinyatakan sebagai hadits yang shahih, sebab menurut data sejarah, para perawi yang tergabung di dalam sanad dimaksud, masing-masing dengan rawi terdekat sebelumnya terbukti hidup se zaman dan memiliki kualitas pribadi yang memenuhi syarat.(Ibnu Hajar al-Atsqalani, Tahdzib al-Kamal, 1984). Kemujdian jika disandingkan dengan riwayat yang lain (sebagaimana tersebut di atas), maka jumlah sanad hadits ini berstatus masyhur. Dengan demikian secara yuridis hadits tersebut layak dijadikan sebagai dalil syar’i.

Kandungan makna hadits di atas menginformasikan tentang banyak hal yang berhubungan dengan ibadah puasa, baik pusa wajib atau lainnya.

Pertama, menurut Rasulullah, aktivitas puasa merupakan perisai/pelindung  bagi para pelakunya. Sebagian ulama memahami bahwa yang dimaksud pelindung adalah melindungi pelakunya dari dosa dan sisksa neraka. Lebih lanjut Ibnu al-Arabi menjelaskan alasannya mengapa aktivitas puasa dapat menjadi pelindung dari api neraka, sebab orang yang berpuasa telah meninggalkan kecenderungan syahwatnya, dan siapa saja yang mampu mengekang nafsu sayhawatnya di dunia ini maka kelak di ahirat akan terselamatkan dari api neraka.(Ibnu Hajar, Fathul Bari). Kandungan makna ini mengisaratkan bahwa aktivitas puasa yang diidealkan Rasulullah , menuntut para pelakunya supaya melakukan pengendalian diri dari segala hal yang dilarang oleh agama. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rasulullah sebagaimana diriwayatkan Imam Malik dalam al-Muwatha’:

الصيام جنة , فإذا كان أحدكم صائما فلا يرفث إلخ

dan hadits Nabi riwayat Muslim

من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه

Jadi hakikat puasa bukan hanya sekedar menahan diri dari makan minum dan kecendengan seksual belaka, tetapi hakikat puasa adalah menahan dan mengendalikan diri dari segala aktivitas yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkanan agama. Inilah sebabnya mengapa orang yang berpuasa dengan benar akan dipastikan dapat mencapai predikat “muttaqin”.

Abu Ubaidah al-Jarrah dan Sayidah A’isyah meriwayatkan bahwa menggunjing (ghibah) membahayakan ibadah puasa. Oleh karena itu al-Auza’i berpendapat bahwa menggunjing dapat membatalkan puasa, dan wajib diganti pada hari lain. Bahkan menurut Ibnu Hazm setiap perbuatan maksiat yang dilakukan dengan sengaja(baik berupa ucapan atau perbuatan) dapat membatalkan ibadah puasa seseorang. Pendapat ini diambil berdasar pernyataan Nabi    فلا يرفث ولا يجهل  dan hadits riwayat Imam Muslim di atas.

Kedua, hadits  ini mengisyaratkan bahwa puasa menuntut para pelakunya supaya dapat meningkatkan kemampuan kesabarannya (kecerdasan emosional). Pernyataan Nabi “Jika seseorang hendak membunuhnya (baca: mengajak bertengkar) atau mengolok-olok, maka katakanlah : Saya sedang menjalankan puasa”, secara tegas memerintahkan supaya pelaku puasa mampu menghadapi berbagai ujian dan cobaan yang tidak menyenagkan dirinya. termasuk yang datangnya dari pihak lain. Di samping itu hadits ini juga mengisyaratkan bahwa orang lain diharapkan tidak mengacaukan suasana orang yang berpuasa. Menciptakan suasana yang kondusif merupakan hal yang diisyaratkan pernyataan Nabi: “maka katakanlah : Saya sedang menjalankan puasa”. Perintah Nabi ini dimaksudkan supaya pelaku puasa menyadari bahwa dirinya sedang menjalankan ibadah yang melarang berbuat dosa, dan orang lain juga menyadari bahwa orang yang berpuasa tidak layak diajak melakukan perbuatan yang tercela.

Ketiga, nilai orang yang beribadah puasa sungguh sangat mulya. Nabi menggambarkan bahwa keharuman orang puasa, bahkan aroma mulut (pelaku puasa)yang tidak sedap, bagi Allah jauh lebih bermakna dibanding aroma parfum jenis misik.

Para ulama berbeda pendapat dalam memaknai ungkapan Nabi: “Aroma mulut orang berpuasa lebih harum bagi Allah di banding aroma misik”. Sebagian ulama memahami ungkapan ini bermakna hakiki. Karena itu dimaknai sebagaimana kandungan ibaratnya (makna tersurat). Sedang sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa ungkapan Nabi tersebut bermakna majazi. Oleh karena itu maka pernyataan Nabi harus difahami sebagai kiasan. Yang dimaksud sebenarnya , bahwa orang yang  berpuasa akan mendapatkan ridla dan diterima oleh Allah. Ibnu Abd al-Bar memaknai orang yang berpuasa sebagai orang yang lebih suci dan dekat dengan Allah.

Perbedaan pemahaaman ini pada gilirannya mengakibatkan munculnya perbedaan dalam menetapkan status hukum perbuatan orang yang berusaha menghilangkan bau mulutnya se waktu berpuasa. Para ulama sepakat bahwa menggosok gigi sebelun zawalissyams(tergelincirnya mata hari) diperbolehkan bagi pelaku puasa. Tetapi jika hal itu dilakukan sesudah zawalis syams, maka mereka berbeda pendapat. Ulama yang memahami pernyataan Nabi di atas secara tersurat (hakiki) cenderung menghukumi makruh. Sedang bagi ulama yang memaknai secara majazi, cenderung memperbolehkan. Imam Malik misalnya memperbolehkan gosok gigi sesudah zawalissyams.

Keempat, hadits di atas menjelaskan bahwa aktivitas puasa merupakan ibadah yang husus, bahkan istimewa. Pernyataan Nabi saw:”Puasa itu untukku dan Aku akan memberikan imbalan” ini sama dengan hadits Qudsi yang disampaikan Nabi melalui penuturan Imam Ahmad:” Semua amal ibadah anak cucu Adam adalah untuk dirinya sendiri, kecuali ibadah puasa. Sesungguhnya puasa itu untukKu dan Aku sendiri yang akan memberikan imbalannya”.

Berangkat dari hadits di atas para ulama menyimpulkan bahwa ibadah puasa merupakan rahasia antara Allah dan pelakunya saja. Jika ibadah-ibadah pada umumnya bisa disaksikan orang lain melalui indicator lahiriyah, (karena itu bisa disalah gunakan untuk sum’ah/riya’) . Sedangkan ibadah puasa tidak demikian. Ia hanya bisa disaksikan melalui indicator batin (niat), dan yang bisa menyaksikannya hanya Allah dan pelakunya sendiri. Inilah sebabnya maka ibadah puasa dapat dijadikan sebagai sarana untuk melatih keikhlasan. , sebab puasa tidak kelihatan orang lain. Kelelahan fisik dan bibir yang kering (sebagai tanda kelesuan) tidak hanya sebagai indicator puasa saja. Sedangkan yang mengetahui jumlah imbalannya hanyalah Allah sendiri. Jika imbalan amal ibadah pada umumnya sepuluh kali sampai tujuh puluh kali lipat, maka imbalan ibadah puasa akan dilipat gandakan lebih bayak lagi, dan kelipatannya terserah pada Allah sebagaimana firman-Nya:

إنما يوفى الصابرون أجرهم بغير حساب

Kata “al-Shabirun” ditafsirkan pera ulama sebagai orang-orang yang berpuasa.

Kontekstualisasi Ajaran Puasa

Sebagaimana dijelaskan di atas  bahwa pada hakikatnya puasa itu terletak pada aktivitas pengendalian diri dari segala hal yang dilarang agama. Oleh karena itu, maka aktivitas puasa yang dilakukan seseorang, di samping merupakan proses latihan yang bersifat spiritual, juga sekaligus menjadi instrumen pembuktian bahwa manusia sangat memungkinkan untuk menjadi hamba Allah yang taat dan tunduk dalam menjalankan amanat yang dibebankan kepadanya.

Puasa dilambangkan dengan aktivitas tidak makan dan minum serta tidak menyalurkan hasrat birahinya mulai terbit fajar sampai maghrib. Ketiga hal tersebut merupakan kebutuhan primer manusia normal. Akan tetapi berhubung diperintahkan oleh Allah supaya meninggalkan ketiga kebutuhan tersebut, maka pelaku puasa dengan suka rela (dan mungkin terpaksa) dapat menghidarinya dengan lancar. Ini merupakan bukti bahwa manusia itu mampu mengikuti perintah sekaligus meninggalkan larangan Allah. Jika meninggalkan kebutuhan primer saja mampu melakukan, maka terhadap kebutuhan sekunder dan tersier tentu akan lebih mudah.

Pengalaman aktivitas ibadah puasa memberikan pelajaran bahwa al-Sha’im (para pelaku puasa) telah dengan suka rela meninggalkan kebutuhan pokoknya (makan-minim) demi menjalankan perintah Allah. Hal ini memberikan pelajaran sangat penting bahwa ridla Allah jauh lebih berharga di banding yang lain. çŽt9ò2r&š «!$# 4ÆÏiB 4 ×bºuqôÊ͑ur

Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa mengutamakan perintah dan ridlaNya akan membebaskan manusia dari belenggu dan perbudakan duniawi. Oleh karena itu jika seorang telah berhasil menjalankan ibadah puasa dengan benar , maka ia tidak akan bernafsu mengumpulkan kekayaan atau kedudukan jika hal itu menyebabkan murka Allah.

Penglaman lain dari aktivitas puasa, telah memberikan pelajaran bahwa tidak setiap keinginan selalu menjadi kebutuhannya sebagai hamba Allah. Ketika seseorang sedang berpuasa seringkali membayangkan betapa nikmatnya jika nanti ketika tiba waktu berbuka dapat menikmati semua makanan yang lezat dan segar. Akan tetapi begitu waktu berbuka telah tiba, dan seorang sha’im telah meneguk segelas air + beberapa butir kurma, maka seluruh keinginan yang terbayang sebelumnya menjadi sirna. Peristiwa ini mendidik kita supaya memiliki kesadaran selektif untuk memilah dan memilih antara kebutuhan dengan keinginan. Sebab boleh jadi makanan, atau pakaian dan barang-barang yang kita kuasai bukanlan merupakan kebutuhan kita sebagai hamba Allah, tetapi hanya sekedar keinginan belaka. Kebutuhan adalah sesuatu yang dapat mendukung menjalankan amanat Allah, sedangkan keinginan merupakan sesuatu yang muncul dari dorongan nafsu(seperti mempertahankan prestise dan sebagainya).

Sampurnan, 30 Juli 2007

M. Nawawi

Leave a comment

Filed under Pemikiran Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s